Cermin Anak, Cermin Orangtua
Pernah diberitakan oleh media massa cetak telah terjadi penangkapan
seorang bapak yang menjual anaknya sendiri. Meski kemudian, sebagaimana diberitakan, diketahui motif bapak itu menjual anaknya sendiri, yakni karena derita kemiskinan, pemberitaan itu sendiri telah memanjangkan deretan permasalahan sekitar dunia anak.
Ya, anak adalah amanah - mengikuti bahasa agama. Lebih dari itu, anak
adalah qurrata a`yuun, penyedap mata, dan tentunya penenteram jiwa buat
kedua orangtuanya. Menjaganya, tentu kewajiban orangtua.
Ada dua amanah wajib yang telah dilansir dalam hadits Nabi saw mengenai
amanah anak. Pertama ialah, memberikannya nama yang baik. Dan yang
kedua, memberikannya pendidikan terbaik. Mengapa memberikan nama yang baik? Sebab, dalam Islam, nama seorang anak tak lain doa dari kedua orangtuanya. Didalamnya, terkandung cita, cipta dan cinta orangtua terhadap anak. Mereka berharap, keturunan inilah yang akan melanjutkan cita-cita dua insan yang membangun mahligai keluarga.
Amanah yang kedua, memberikan pendidikan terbaik. Kedua orangtua
memiliki sejumlah harapan-harapan yang tidak hanya sekadar secara simbolik tercermin pada nama anaknya. Misalkan, ketika seorang ayah atau ibu atau kakek-neneknya memberikan nama Ahmad atau Muhammad, doa yang dimaksudkan tidak hanya menjadikan anak tersebut itu menjadi "yang terpuji". Akan tetapi kemudian, benar-benar menjadikannya "yang terpuji".
Adapun menjadikannya "yang terpuji" inilah yang dilakukan oleh
pendidikan. Kiranya contoh nama dan yang mendapatkan gelar serta pendidikan terbaik ini ada pada diri Rasulullah, Muhammad saw. Beliau semenjak kecil dibesarkan dalam keadaan yatim-piatu. Tetapi, sedikitpun tak berkurang kemuliaannya. Tumbuh dewasa, gelar sosial disandangnya sebagai Al-Amin, yang dapat dipercaya.
Mendidik anak merupakan amanah yang tak sepele. Membimbingnya
memerlukan waktu yang cukup panjang. Berapa banyak coba pengorbanan yang orangtua berikan pada anaknya. Bisa dibilang, hampir seumur hidupnya.
Bicara tentang pengorbanan orangtua yang tak terbatas, terkadang
menyebabkan orangtua merasa paling berjasa. Berjasa, karena telah membesarkan seorang anak. Berjasa, karena pikirannya banyak tertumpah pada anak.
Karena pemikirannya membulat pada anak, terkadang karena alasan anaklah mereka melakukan tindakan nista. Contoh yang sering dan hingga kini diributkan cukup besar di negeri ialah korupsi. Anak, bisa jadi sebab sepele yang menjadikan orangtua melakukan tindakan korupsi. Alih-alih orangtua menutup mata terhadap eksistensi sejati anaknya sendiri. Buta.
Maka tepat ketika al-Quran menyebutkan, "Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi
musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu
memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS at-Thaghabuun [64]: 14).
Cuma sayang, jarang ada orangtua yang banyak menjadikan anak-anaknya sebagai cermin. Lebih banyak, mereka menjadikan anaknya sebagai objek belaka. Akhirnya, berlakulah pepatah dengan nada-nada negatif, "Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga." Atau, "Like father, like sons."
Intinya, orangtua perlu menyadari bahwa anak-anak belajar dari mereka.
Dari hal-hal yang sepele, seperti cara mendengarkan, mengamati, dan
memikirkan tingkah laku orangtua.
Kebiasaan ibu misalnya, ketika membuatkan secangkir teh untuk bapaknya, kebiasaan sang bapak berpamitan pada ibunya, kebiasaan mereka saling mencurahkan kasih sayang, menjadi pelajaran nyata bagi anak-anak. Lebih dari itu, hal-hal yang tampak sepele seperti kapan mematikan atau menyalakan televisi, seluruhnya terekam dalam ingatan anak-anak.
Maka, apabila kita tidak ingin dipermalukan di mata orang lain karena
polah anak-anak kita, berarti kita pun jangan berbuat hal yang memalukan
didepan mereka sendiri.
0 comments:
Post a Comment