Showing posts with label Reflection. Show all posts
Showing posts with label Reflection. Show all posts

Sunday, April 22, 2007

Sakit untuk Berubah

"Sebelum rasa sakit seseorang melebihi rasa takutnya, ia belum mau berubah."

Tidak ada yang menyangkal bahwa bekerja atau berkarier di zaman ini sungguh mengerikan. Dulu, orang-orang tua kita bisa menggenggam pekerjaan sampai pensiun. Sekarang, semua itu tinggal kenangan.

Itulah zaman emas kaum berkerah, baik kerah biru maupun kerah putih. Generasi paruh baya dewasa ini melewati dunia kerja dengan penuh waswas.

Tekanan persaingan yang begitu keras telah membuat eksekutif tidak bisa main-main dengan tim kerja yang lemah. Orang-orang yang kurang disiplin, tidak cekatan dengan rapor kerja C atau D, dan enggan belajar sehingga keterampilannya mudah usang akan menjadi sasaran PHK atau pensiun dini.


Juga, tidak zamannya lagi semua orang menerima bonus yang sama. Demi keadilan, bonus diberikan proporsional, terkait kinerja, baik individu, tim, maupun perusahaan/ organisasi. Artinya, tiap orang akan menerima bagian berbeda-beda.

Semua akan menjadi jelas saat seorang pekerja menapaki usia kepala empat. Itulah saat di mana akan menjadi jelas apakah seseorang mampu memimpin atau tidak; mampu beradaptasi atau menjadi beban. Sebuah saat, di mana biaya tenaga kerja mulai terasa mahal dan penuh kompetisi.

Memperbarui diri

"Human being is a lazy organism," kata Mc Gregor.

Itulah petuah yang sering kita dengar, meski pada sisi lain kita mengenal petuah lain yang bernada lebih optimistis, "Human being is a learning organism." Artinya, semalas-malasnya manusia, jika dibanding makhluk lain, manusia adalah makhluk yang punya nalar dan bisa belajar.

Belajar adalah sarana untuk memperbarui diri. Tanpa belajar, kita akan terperangkap hidup pada masa lalu. Itu sebabnya pakar kepemimpinan Manfred Kets De Vries (1988) mencatat, salah satu penghalang bagi manusia untuk memperbarui diri adalah karena kita selalu merupakan produk dari masa lalu.

Produk dari masa lalu itu tampak benar dalam film The Last Samurai. Kaisar Jepang yang membuka pintu harus berhadapan dengan Katsumoto, samurai yang menghendaki kemurnian budaya yang memilih lari ke hutan dan menentang modernisasi. Tragedi perubahan tampak saat Nathan (Tom Cruise) yang direkrut Kaisar melatih tentara-tentara kaisar menggunakan senjata api.

Padahal, tentara kaisar biasanya hanya menggunakan busur, anak panah, dan pedang. Kita berpikir, memberi tentara senjata baru dengan pelatih kelas dunia akan beres. Drama itu dimunculkan dengan amat jelas saat tentara yang berhasil menembak di sasaran (berupa target papan) dipaksa menembak manusia. Mereka stres (merasa sakit) akibat harus bertarung habis-habisan dengan diri sendiri dan terbukti gagal menembak.

Hal serupa juga pernah kita alami di sini, saat perkebunan-perkebunan besar dibuka di rimba-rimba Kalimantan dan Papua. Pemilik perkebunan mungkin masih ingat, betapa sulitnya mengubah penduduk yang biasa hidup berburu menjadi petani kelapa sawit. Pemburu ingin mendapat hasil segera, hari itu ke hutan, sore mendapat buruan. Berbeda dengan bertani, yang menuntut ketekunan dan waktu untuk menangguk hasil. Akibatnya, proyek-proyek pertama perkebunan sawit relatif gagal.

Namun, apa pun yang terjadi, manusia selalu dituntut terus belajar dan memperbarui diri. Maka, lembaga dan perusahaan selalu memberi pelatihan melalui diklat-diklat agar kompetensi karyawan diperbarui dari masa ke masa. Dan jika perusahaan alpa, setiap individu wajib mengambil inisiatif sendiri.

Kini, pembaruan kompetensi saja tidak cukup. Lebih dari itu diperlukan recode, yaitu mengubah pola pikir. Recode bukan cuma dilakukan perusahaan dan pekerja, tetapi juga para aktivis serikat kerja agar organisasi tidak ditunggangi kaum yang tidak menghendaki perubahan, kaum yang tidak produktif, dan ingin tetap tinggal dalam kenangan masa silam. Seperti kata Albert Einstein, "Kita tidak bisa memecahkan masalah-masalah baru dengan cara-cara lama."

Takut dan sakit

Dalam pembaruan alam semesta, Tuhan menggunakan dua instrumen untuk memperbarui manusia, yaitu instrumen rasa takut dan instrumen rasa sakit.

Bagi orang-orang tertentu, rasa takut sudah bisa membuatnya berubah. Seorang anak muda berubah setelah melihat betapa menyeramkan otak manusia korban narkoba yang digambarkan mirip otak sapi gila di internet. Orang-orang seperti ini adalah mereka yang dianugerahi DNA Perubahan (Change DNA) unsur O (Openess to experience) yang tinggi.

Namun, ada juga orang yang belum mau berubah meski rasa takutnya sudah amat jelas. Orang-orang seperti ini baru berubah setelah rasa sakit melebihi rasa takut.

Itu sebabnya dalam manajemen klasik sering digunakan kedua instrumen itu. Target yang tinggi diberikan agar karyawan bergerak. Jika tidak tercapai, seseorang akan menerima sanksi-sanksi menakutkan. Kalau tidak juga berubah, maka rasa sakit digunakan. Rasa sakit biasanya diwujudkan dengan mengambil aneka kenikmatan yang biasa diterima, termasuk bonus, jabatan, dan yang paling berharga adalah pekerjaan.

Seperti kata orang-orang bijak, "Hidup akan menjadi mudah jika kita mau keras (sakit) terhadapnya. "

Seseorang mungkin merasakan rasa sakit itu sebagai ketidakadilan, tetapi mungkin perlu juga dihayati bahwa rasa sakit yang tidak enak itu merupakan instrumen untuk mengubah hidup. Jika kesakitan itu tak bisa juga mengubah Anda, itu pertanda Anda sudah mati. Dan seperti makhluk mati lainnya, Anda benar-benar kaku.

Oleh Rhenald Kasali
Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia
http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0704/ 20/opini/ 3429822.htm
============ ========= ======

READ MORE...

Saturday, April 07, 2007

Tips Melatih Pikiran Terbuka

Picture taken from: here
Source from: here
Berdasarkan materi oleh: WikiHow


(Anda sudah membuka tips ini, janganlah berhenti pada judul. Teruslah membaca, pikiran Anda akan terbuka.)

Pernahkan Anda, merasa diperlakukan tidak menyenangkan oleh orang lain? Saat sesuatu terjadi pada diri Anda, pernahkah Anda merasa bahwa itu adalah sebuah ketidakadilan? Pernahkan Anda, merasa sangat benar dan orang lain salah? Pernahkah Anda merasa sangat ingin untuk mencemooh sesuatu?

Apa yang Anda rasakan mungkin benar, akan tetapi waspadalah untuk tetap selalu mencoba membuka pikiran Anda. Mengapa? Karena itu lebih menguntungkan. Karena itu juga lebih menyenangkan. Menjaga diri memang harus, tapi menjaga hati lebih harus.

Pikiran terbuka, atau open mind, atau open minded, atau being open minded, telah terbukti menjadi salah satu ciri dari karakter orang-orang besar dan sukses. Sikap open minded-lah yang telah menjadikan mereka orang yang besar dan sukses.

Cobalah Anda renungkan gambaran berikut ini.

Orang yang sangat kaya, tidak berbahagia karena kuantitas kekayaannya. Banyak uang bukanlah tentang 'banyaknya uang'. Satu-satunya perihal kuantitatif yang melekat pada kebahagiaannya, adalah "kuantitas pilihan" sebagai konsekuensi dari kekayaannya.

"Mau beli apa lagi Saya hari ini?" "Siapa lagi yang mau Saya kasih uang?"
"Anak Saya sakit, baiknya masuk ke rumah sakit mana ya?"

Orang yang punya rumah banyak, tidak berbahagia karena kuantitas rumahnya. Kekayaannya terletak pada pilihan.

"Sayangku, weekend kali ini mau nginep di villa kita yang mana?"

Orang yang punya banyak mobil, tidak senang karena kuantitas mobilnya. Ia senang karena kuantitas pilihannya.

"Hari ini Aku mau pake Jaguar merah aja deh. Besok baru Ferrari yang biru."

Orang yang berkuasa, hanya berbahagia jika ia memahami kuantitas dan kualitas pilihan yang muncul dari kekuasaannya.

"Dengan kuasa yang Saya punya, apa yang bisa Saya lakukan untuk membantu orang banyak?"

Bisakah kini Anda mengerti, betapa kayanya orang yang kaya? Maukah Anda mengetahui, resep apa yang mereka coba? Resep itu adalah berpikiran terbuka. Dan Anda bisa menjadi kaya saat ini juga, dengan memperbanyak pilihan. Di antaranya, dengan lebih membuka pikiran.

Menurut definisinya, open minded kurang lebih adalah: "Having or showing receptiveness to new and different ideas or the opinions of others."

Berpikiran terbuka, akan membuka pikiran Anda. Jadi, Anda pikirkan saja. Berpikiran terbuka akan mencegah pikiran buntu dan mampet. Berpikiran terbuka akan mencegah Anda dari berpikiran sempit. Anda bisa membayangkan, apa jadinya jika Anda selalu saja menolak buah pikir orang lain, menolak ide bawahan, atau bahkan menolak sesuatu yang orang pada umumnya menerima. Berpikiran terbuka akan mengeksplorasi pikiran Anda, sehingga Anda menjadi lebih kreatif, intuitif, dan reseptif. Itu artinya, makin tinggi pula peluang kesuksesan Anda.

Kreatif, tampil beda, memang sebuah kelebihan. Akan tetapi, tidak sepatutnya hal itu membuat Anda menjadi orang yang berpikiran sempit dan senang mencemooh. Berpikiran terbuka, akan menjadikan Anda lebih cerdas, lebih berenergi, lebih sosial, lebih kreatif, dan tentu saja; lebih terbuka pada pengalaman dan cara pandang yang baru.

Bagaimana cara melatihnya, berikut ini tips mudahnya.

STIMULASI TELINGA ANDA DENGAN MUSIK BERBEDA

Stimulasilah telinga Anda dengan mendengarkan jenis musik, yang Anda jarang atau belum pernah mendengarnya. Belajarlah untuk mengapresiasinya. Dangdut, Keroncong, Gambang Kromong, Campursari, Classical, New Age, Zouk, Rap, Mariachi, Country, Afro-Blues dan sebagainya. Anda memang tak perlu menyukai atau mencanduinya. Anda hanya mencoba lebih terbuka dan belajar mengapresiasinya. Yang namanya musik, selalu menarik.

STIMULASI MATA ANDA DENGAN PANDANGAN BERBEDA

Nikmati memandang hal-hal yang berbeda. Cobalah menikmati berbagai bentuk seni visual. Sering-seringlah memandang segala sesuatu, yang bukan melulu kertas, layar monitor, wajah kolega, bawahan atau atasan, atau bahkan sekedar wallpaper di tembok kantor saja. Tontonlah film horor, jika selama ini Anda menghindarinya. Apapun yang menjadi objek pandangan Anda, sepanjang itu tidak buruk atau menjadikan dosa, sekalipun Anda tidak menyukainya, tetaplah berfungsi dengan sebaik-baiknya, yaitu menstimulasi dan memprovokasi pikiran Anda.

STIMULASI LIDAH ANDA DENGAN MAKANAN YANG BERBEDA

Yang penting halal dan enak. Cobalah Kebab Afrika. Nikmati sushi. Tinggal Anda pilih saja.

PELAJARI PERBEDAAN TENTANG ORANG DAN GAYA HIDUPNYA

Ingat, pelajari saja. Anda tidak perlu menjadi bagian darinya. Apalagi, jika itu memang tidak sesuai dengan sistem tata nilai Anda. Dengan belajar, wawasan Anda akan menjadi kaya. Pikiran Anda akan terbuka.

PELAJARI SESUATU YANG BARU

Basket, golf, terjun payung atau bungee jumping jika perlu.
Web design, internet, taichi, aikido.
Komunikasi, public speaking...

Dan seterusnya.

MILIKI KEMAMPUAN BARU

Berlatih juggling dengan tiga bola? Tidak mungkin? Tetaplah berlatih dengan pikiran terbuka. Anda bisa.
Berlatihlah sulap kartu. Pelajari ping-pong.
Tulislah puisi, cerpen atau novel.

Dan sebagainya.

SAAT BERADA DI ANTRIAN

Lakukan ini:

# Menghitung
# Mengingat
# Memperhatikan
# Membandingkan

Dan sebagainya.

"Buset dah, ini antrian panjang banget. Coba ada berapa orang sih..."
"Pintu exit di sana, tangga darurat di situ, toilet ke arah sini..."
"Ini yang namanya barcode ya? Gimana sih bikinnya... Kok cuman garis-garis tapi bisa di-scan trus keluar informasi sama harganya..."
"Kalo di bioskop yang sono sih, penontonnya tua-tua semua..."

IKUTI KELAS DAN EVENT YANG TIDAK UMUM

Ikuti kursus "Shalat Khusuk"
Ambil bagian di seminar "Sukses Bermodal Dengkul"
Jadilah peserta "Lomba Lari Mundur"
Ikuti "Workshop EDAN"
Aktiflah di "Kelompok Penggemar Jangkrik"
Jangan tolak quesioner "Apakah Anda Sudah Gila?"

Dan sebagainya.

UBAH TEMPAT FAVORIT ANDA

Biasa ke Anyer? Cobalah Pulau Puteri.
Suka laut? Pergilah ke gunung.
Suka gunung? Ke laut aja.

Ubah juga rute yang menjadi kebiasaan Anda. Cobalah perjalanan baru. Kemudikanlah sendiri kendaraan Anda, dari Jakarta ke Medan umpamanya.

KEMBANGKAN KREATIFITAS ANDA

Kerjakan teka-teki silang dengan berbagai variasinya.
Mainkan jangan hanya solitaire, tapi juga spider solitaire.
Belajarlah menulis terbalik yang hanya bisa dibaca di depan kaca. Leonardo Da Vinci, melakukannya untuk semua catatannya.
Bongkar PC Anda dan rakit kembali. Lakukan overclok. Montiri kendaraan Anda sendiri.
Pakai pakaian yang Anda geli memakainya.

HADAPI KETAKUTAN ANDA
Takut bicara, bicaralah.
Takut ketinggian? Naiklah pesawat.

Apapun yang terjadi, ketakutan hanyalah perasaan. Dalam banyak kasus, ia tidak berakibat apa-apa kecuali hanya rasa takut saja.

LATIHAN W.A.I.T

Katakan:

"What Am I Thinking?"

setiap kali Anda bisa melakukannya. Seperti sekarang misalnya?

PELAJARI PERSPEKTIF ORANG LAIN

Apa yang penting baginya?
Apa yang disadari dan tidak disadarinya?
Apakah pikirannya sama terbukanya dengan Anda?
Apa sih niat positif di belakang kelakuan orang ini?

Jika Anda selalu melihat gedung A dari sisi kiri jalan, cobalah melihatnya dari sisi kanan jalan, dan rasakan perbedaan persepsi Anda.

Jika Anda sering menonton TV bersama seseorang, matikan TV Anda dan mulailah mengobrol dengannya. Perpanjang waktu mengobrol Anda dan perpendek waktu menonton Anda. Mulailah rasakan bagaimana itu lebih nikmat daripada menonton televisi.

TIPS TAMBAHAN

Efisienlah dengan memilih aktivitas yang murah bagi Anda.
Efisienlah dengan waktu latihan Anda.
Jadilah berani. Jangan pernah malu jika itu memang tidak memalukan.

Jangan terdiskriminasi oleh trend atau mode. Pakaian Anda sudah ketinggalan jaman? Tidak, itu modis dan trendy untuk Anda. Sepatu Anda terlalu klasik atau konservatif? Tidak, itu modis dan trendy untuk Anda. Mobil Anda butut? Tidak, itu adalah sedan keluaran '84 favorit Anda. Modis, dan trendy.

WARNING

Be safe. Jagalah keselamatan diri dan hati Anda. Jagalah keselamatan hubungan Anda dengan siapa saja. Jangan memaksa untuk sesuatu yang terlalu berat untuk Anda. Ingatlah bahwa tujuan memiliki pikiran terbuka, adalah mengembangkan pikiran yang sempit. Jangan sampai, pikiran Anda malah tambah sempit.

KESIMPULAN

Prinsip dasar dari semua latihan ini, adalah mencoba terbuka dan menjadi terbuka. Menemukan hal baru, belajar keahlian baru, belajar cara berpikir yang baru. Lakukanlah dengan kreatif. Lakukanlah dengan impulsif. Lakukan dengan terbuka. Lakukanlah apa yang belum tercantum di dalam daftar ini.

Setiap keputusan yang Anda buat di dalam hidup, didasarkan pada sistem tata nilai dan keyakinan Anda. Untuk menjadikan pikiran Anda lebih terbuka, mulailah dari dasar sistem tata nilai dan keyakinan Anda. Kemudian bertanyalah, "Mengapa Saya meyakininya?" Kemudian tanya juga diri Anda, apa yang terjadi pada diri Anda jika Anda tidak lagi meyakininya, dan meyakini hal baru yang bisa jadi sangat berbeda.

Bertanyalah pada orang lain tentang apa yang diyakininya. Tanyakan pada mereka, bagaimana mereka bisa memperolehnya. Pahamilah perbedaannya dari diri Anda.

Maka temukanlah bahwa Anda, dengan sistem tata nilai dan keyakinan Anda, adalah absolut uniknya. Begitu pula mereka. Sistem tata nilai dan keyakinan teman Anda adalah unik bagi mereka. Anda sendiri, pada dasarnya adalah Anda yang "Gue banget." Mereka pun, "Mereka banget."

Pikiran terbuka akan menangguk kenyamanan menghadapi berbagai perbedaan. Pikiran terbuka memberi pilihan lensa untuk suatu objek pemotretan. Pikiran terbuka, akan memperkaya pilihan. Itulah yang dapat membuat Anda sukses dan berjaya.

Mungkin, pikiran Anda sudah lebih terbuka sekarang. Bagaimana dengan ini, meneruskan tips ini kepada teman-teman Anda barangkali?

Ikhwan Sopa

Linked to: JRP

READ MORE...

Thursday, April 05, 2007

Pintar, tetapi Tertutup?

Ini ada artikel bagus untuk refleksi dan pencerahan diri.. Enjoy! :)

Oleh Rhenald Kasali
http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0705/ 19/opini/ 3538418.htm
============ ========= ===

Dalam buku Genom, yang ditulis Matt Ridley, ada nama Joe-Hin Tjio. Disebutkan, Joe, orang Indonesia, telah berperan penting dalam upaya manusia mengurai sandi-sandi yang tersimpan dalam DNA.

Upaya yang dilakukan tahun 1955 itu telah menjembatani karya spektakuler Francis Crick dan James Watson (penemu teori DNA dalam genetika biologi) dengan turunannya, yaitu genetika perilaku. Bersama Albert Levan, Joe-Hin Tjio berhasil mengurai bahwa genetika manusia terdiri atas 23 pasang sel kromosom, bukan 24, seperti dimiliki spesies kera. Proses evolusi menggabungkan dua pasang kromosom kera pada kromosom dua sehingga terwujud sosok manusia. Demikian dijelaskan pakar teori evolusi yang menyaksikan perbedaan pada kromosom dua itu, yang tampak pada pola pita-pita hitam.

Berkat temuan itu, kini para ahli berhasil membaca karakter-karakter apa yang disimpan pada setiap pasang dari 23 sel kromosom manusia, mulai dari kecerdasan, konflik, stres, kepribadian, seks, sampai kemampuan merakit diri.

Bibit-bibit pintar

Joe-Hin Tjio adalah fakta pintarnya orang-orang asal Indonesia. Fakta-fakta lain, diurai Prof Yohanes Surya, yang berhasil mengibarkan bendera Indonesia di antara pelajar asing yang bertarung dalam Olimpiade fisika.

Yohanes Surya telah membawa putra- putri asal Irian Jaya, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, sampai Pulau Jawa, yang ternyata tidak kalah pintar dengan pelajar asing. Padahal, kalau kita jujur, berapa besar investasi yang ditanamkan di bidang pendidikan dibandingkan dengan investasi serupa di negara-negara blok Timur.

Dalam bidang bisnis, putra-putri Indonesia juga tidak kalah pintar. Pada akhir abad ke-20, dua kakak-beradik, Sehat dan Pantas Sutarya, terpilih sebagai orang terkaya di bawah usia 40 tahun di Amerika Serikat. Dua alumnus SMA Kanisius, Jakarta, itu diketahui merantau ke AS sekitar tahun 1980-an dan bersekolah di kampus bergengsi di sana, lalu melakukan penemuan spektakuler di bidang teknologi informasi dan
berhasil mengapitalisasinya melalui pasar modal.

Di mana-mana di Indonesia, orang menginginkan anak-anaknya menjadi juara kelas. Perbincangan di kalangan orangtua yang menjemput anak-anaknya di berbagai sekolah (khususnya sekolah dasar) juga tidak lebih dari soal prestasi belajar. Melalui pertanyaan, apa yang membuat para ibu/bapak bangga terhadap anak- anaknya, selalu dijawab: juara kelas. Keinginan itu dijawab sejumlah pedagang. Mereka menawarkan
kursus-kursus berhitung, buku, bahkan aneka seminar yang menjanjikan anak-anak bisa diubah seketika menjadi super-rajin dan superpintar. Bahkan, ada yang menjanjikan dua hal sekaligus: pintar dan cepat kaya.

Terbuka dan kreatif

Kepintaran seseorang dalam dunia akademis bukan penentu tunggal dalam kesuksesan hidup. Bahkan, bukan itu pula tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan adalah untuk memperbaiki cara berpikir seseorang, sekaligus membebaskan manusia dari berbagai belenggu mitos yang mengikatnya. Prosesnya pun panjang, antara 12-18 tahun. Dalam rentang waktu panjang itu sulit ditemui orang yang begitu persisten, pandai secara akademis.

Sejarah menemukan ada orang-orang yang memiliki pola bekerja dan belajar seperti mesin diesel, yang panasnya memerlukan waktu. Lebih mengagetkan lagi, mereka yang pintar secara akademis belum tentu pintar di dunia bekerja.

Dalam hukum genetika perilaku, unsur-unsur pembentuk kepribadian manusia tersimpan dalam bentuk sandi-sandi. Salah satu unsur penting dalam sandi itu adalah huruf O yang mengandung makna keterbukaan (Open mind atau Openness to experience). Dengan demikian, kita mengenal dua jenis manusia pintar.

Pertama, orang-orang pintar yang dikenal sebagai wirausaha sukses yang berhasil membangun berbagai perusahaan besar dan penerima hadiah nobel diketahui memiliki unsur O amat tinggi. Mereka memiliki banyak minat, terbuka terhadap hal-hal baru, kritis, imajinatif, cenderung fleksibel, dan menyukai originalitas.

Kedua, kepintaran mereka berbeda dengan orang-orang yang suka menghabiskan waktu sia-sia sejak di SD yang hanya mengejar nilai tinggi di sekolah. Mereka ini memang pintar, tetapi unsur O mereka bisa jadi amat rendah. Banyak ditemui orang-orang, yang meski berpendidikan tinggi, cenderung reaktif, defensif, bahkan dogmatik.
Meski tidak semua orang pintar bersikap demikian, orang-orang yang tertutup punya kecenderungan seperti ini.

Akibatnya, mereka amat resisten dengan hal-hal berbau pembaruan. Bahkan, mereka ingin cepat menyerang, bukan memikirkan atau memeriksa segala hal yang bertentangan dengan pendapatnya atau ilmu yang dianutnya. Mereka tidak welcome terhadap fakta-fakta baru, bahkan cenderung menyangkalnya. Orang-orang seperti ini, meski track-record sekolahnya terbilang pandai dan kemampuan berteorinya tinggi, adalah orang-orang yang tertutup sehingga kurang adaptif.

Jika sebuah institusi dipimpin atau banyak dipimpin oleh orang-orang pintar tipe kedua, dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi dengan masa depan institusinya. Kinerjanya akan terus merosot, penerimaan publik dan respek terhadapnya berkurang, tetapi oknum-oknum pintar itu selalu menyangkalnya.

Kenyataan ini berbeda dengan berbagai organisasi yang dipimpin orang-orang yang memiliki cara pandang yang terbuka (pintar tipe pertama). Orang-orang dengan sandi O yang tinggi ini terlihat demikian bergairah mengeksplorasi hal-hal baru dan cenderung kreatif. Mereka juga bukan pemarah yang mudah larut dimakan gosip, tetapi pemberani yang mewujudkan impian baru di masa depan.

Kita perlu memikirkan kembali makna pembelajaran, yaitu apakah untuk membebaskan diri dari berbagai belenggu dengan cara lebih terbuka, atau hanya untuk memintarkan secara akademis. Tentu jauh lebih baik membebaskan mereka dari ketertutupan daripada membesarkan orang- orang pintar, tetapi otaknya tertutup. Seperti kata Albert Einstein, "Ukuran kecerdasan manusia sebenarnya terletak pada kemampuannya untuk
berubah." Itulah makna kecerdasan, yang terkait erat dengan keterbukaan dalam berpikir.

PS: Rhenald Kasali Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia




Linked to: JRP

READ MORE...

Thursday, December 28, 2006

Reading Minds and Judging People

People think that by knowing other people, or reading their minds, we can be effective in the world. This is not true. If you know yourself, you can become very effective. If you do not make any attempt to read, perceive or judge something, but simply learn to look at everything the way it is, you will see things the way they are. But if you make an effort to read people's minds-maybe sometimes you will, because after all you do have a mind-you can read certain things, you have perception, you can judge, but these judgments, what will you do with them?

So, this is not a judgment, this is not a reading. This is a deeper understanding of life, that first when you meet a person, you bow down to the source of life within her, with that you have no conflict or have no judgment. First address that dimension. Once you have adressed the source of life, body, mind, all these things are minor aspects. You have no great struggle with all those things. If you go about trying to read people, invariably it is a judgment, isn't it?

No human being is constant. Today she may be something that you don't like. Tomorrow morning she may be in a wonderful mood. But if you think you have read and made an impression of that person in the past, then you will miss that person the way she is right now, isn't it?

Once you get into that, it's a trap. Even if your mind makes judgments about other people, don't attach any importance to it. Because once you start making judgments, invariably, there are only two basic judgments; this is good, this is bad. Everything that you consider as good, naturally you are drawn to it and get attached to it. Everything that you consider as bad, you get repelled from it, and negative emotions will flow. So there is no need to judge. You just have to judge situations. You don't have to judge people.

[Source: Unknown]

Linked to: JRP

READ MORE...