<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567</id><updated>2009-11-09T14:43:43.726+05:30</updated><title type='text'>Atthallah Putra Weblog</title><subtitle type='html'>When we can't have what we love, we must love what we have.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>39</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-3996889818964886202</id><published>2007-04-22T16:55:00.000+05:30</published><updated>2007-04-22T17:02:15.917+05:30</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Contemplation'/><title type='text'>Rahasia Kecil Kebahagiaan</title><content type='html'>Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari&lt;br /&gt;mereka. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bebek disebut "bodoh"? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan TUHAN yang satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke manapun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang&lt;br /&gt;tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang&lt;br /&gt;patut menerima kehangatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri "Aku bebas dalam diriku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga&lt;br /&gt;membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara! yang tidak prinsipiil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkan setiap rahasia yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasakan apa yang dikatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Source: &lt;a href="http://mail.yahoo.com/"&gt;Email forward&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-3996889818964886202?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/3996889818964886202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=3996889818964886202' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/3996889818964886202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/3996889818964886202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2007/04/rahasia-kecil-kebahagiaan.html' title='Rahasia Kecil Kebahagiaan'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-1055276996388698750</id><published>2007-04-22T01:43:00.000+05:30</published><updated>2007-04-22T17:18:32.733+05:30</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><title type='text'>Sakit untuk Berubah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sebelum rasa sakit seseorang melebihi rasa takutnya, ia belum mau berubah."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang menyangkal bahwa bekerja atau berkarier di zaman ini sungguh mengerikan. Dulu, orang-orang tua kita bisa menggenggam pekerjaan sampai pensiun. Sekarang, semua itu tinggal kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah zaman emas kaum berkerah, baik kerah biru maupun kerah putih. Generasi paruh baya dewasa ini melewati dunia kerja dengan penuh waswas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan persaingan yang begitu keras telah membuat eksekutif tidak bisa main-main dengan tim kerja yang lemah. Orang-orang yang kurang disiplin, tidak cekatan dengan rapor kerja C atau D, dan enggan belajar sehingga keterampilannya mudah usang akan menjadi sasaran PHK atau pensiun dini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, tidak zamannya lagi semua orang menerima bonus yang sama. Demi keadilan, bonus diberikan proporsional, terkait kinerja, baik individu, tim, maupun perusahaan/ organisasi. Artinya, tiap orang akan menerima bagian berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua akan menjadi jelas saat seorang pekerja menapaki usia kepala empat. Itulah saat di mana akan menjadi jelas apakah seseorang mampu memimpin atau tidak; mampu beradaptasi atau menjadi beban. Sebuah saat, di mana biaya tenaga kerja mulai terasa mahal dan penuh kompetisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memperbarui diri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Human being is a lazy organism,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; kata Mc Gregor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah petuah yang sering kita dengar, meski pada sisi lain kita mengenal petuah lain yang bernada lebih optimistis, "Human being is a learning organism." Artinya, semalas-malasnya manusia, jika dibanding makhluk lain, manusia adalah makhluk yang punya nalar dan bisa belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar adalah sarana untuk memperbarui diri. Tanpa belajar, kita akan terperangkap hidup pada masa lalu. Itu sebabnya pakar kepemimpinan Manfred Kets De Vries (1988) mencatat, salah satu penghalang bagi manusia untuk memperbarui diri adalah karena kita selalu merupakan produk dari masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk dari masa lalu itu tampak benar dalam film The Last Samurai. Kaisar Jepang yang membuka pintu harus berhadapan dengan Katsumoto, samurai yang menghendaki kemurnian budaya yang memilih lari ke hutan dan menentang modernisasi. Tragedi perubahan tampak saat Nathan (Tom Cruise) yang direkrut Kaisar melatih tentara-tentara kaisar menggunakan senjata api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, tentara kaisar biasanya hanya menggunakan busur, anak panah, dan pedang. Kita berpikir, memberi tentara senjata baru dengan pelatih kelas dunia akan beres. Drama itu dimunculkan dengan amat jelas saat tentara yang berhasil menembak di sasaran (berupa target papan) dipaksa menembak manusia. Mereka stres (merasa sakit) akibat harus bertarung habis-habisan dengan diri sendiri dan terbukti gagal menembak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga pernah kita alami di sini, saat perkebunan-perkebunan besar dibuka di rimba-rimba Kalimantan dan Papua. Pemilik perkebunan mungkin masih ingat, betapa sulitnya mengubah penduduk yang biasa hidup berburu menjadi petani kelapa sawit. Pemburu ingin mendapat hasil segera, hari itu ke hutan, sore mendapat buruan. Berbeda dengan bertani, yang menuntut ketekunan dan waktu untuk menangguk hasil. Akibatnya, proyek-proyek pertama perkebunan sawit relatif gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa pun yang terjadi, manusia selalu dituntut terus belajar dan memperbarui diri. Maka, lembaga dan perusahaan selalu memberi pelatihan melalui diklat-diklat agar kompetensi karyawan diperbarui dari masa ke masa. Dan jika perusahaan alpa, setiap individu wajib mengambil inisiatif sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, pembaruan kompetensi saja tidak cukup. Lebih dari itu diperlukan recode, yaitu mengubah pola pikir. Recode bukan cuma dilakukan perusahaan dan pekerja, tetapi juga para aktivis serikat kerja agar organisasi tidak ditunggangi kaum yang tidak menghendaki perubahan, kaum yang tidak produktif, dan ingin tetap tinggal dalam kenangan masa silam. Seperti kata Albert Einstein, "Kita tidak bisa memecahkan    masalah-masalah baru dengan cara-cara lama."&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Takut dan sakit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembaruan alam semesta, Tuhan menggunakan dua instrumen untuk memperbarui manusia, yaitu instrumen rasa takut dan instrumen rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang-orang tertentu, rasa takut sudah bisa membuatnya berubah. Seorang anak muda berubah setelah melihat betapa menyeramkan otak manusia korban narkoba yang digambarkan mirip otak sapi gila di internet. Orang-orang seperti ini adalah mereka yang dianugerahi DNA Perubahan (Change DNA) unsur O (Openess to experience) yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada juga orang yang belum mau berubah meski rasa takutnya sudah amat jelas. Orang-orang seperti ini baru berubah setelah rasa sakit melebihi rasa takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya dalam manajemen klasik sering digunakan kedua instrumen itu. Target yang tinggi diberikan agar karyawan bergerak. Jika tidak tercapai, seseorang akan menerima sanksi-sanksi menakutkan. Kalau tidak juga berubah, maka rasa sakit digunakan. Rasa sakit biasanya diwujudkan dengan mengambil aneka kenikmatan yang biasa diterima, termasuk bonus, jabatan, dan yang paling berharga adalah pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata orang-orang bijak, "Hidup akan menjadi mudah jika kita mau keras (sakit) terhadapnya. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang mungkin merasakan rasa sakit itu sebagai ketidakadilan, tetapi mungkin perlu juga dihayati bahwa rasa sakit yang tidak enak itu merupakan instrumen untuk mengubah hidup. Jika kesakitan itu tak bisa juga mengubah Anda, itu pertanda Anda sudah mati. Dan seperti makhluk mati lainnya, Anda benar-benar kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rhenald Kasali&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0704/ 20/opini/ 3429822.htm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;============ ========= ======&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-1055276996388698750?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/1055276996388698750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=1055276996388698750' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/1055276996388698750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/1055276996388698750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2007/04/sakit-untuk-berubah.html' title='Sakit untuk Berubah'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-5790217151079897488</id><published>2007-04-10T22:15:00.000+05:30</published><updated>2007-04-10T22:40:46.153+05:30</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Contemplation'/><title type='text'>jUsT fOr mE...</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ruwjaKIW4mE/RhvD2OeygUI/AAAAAAAAAAk/1sGilvl3vT8/s200/reflection.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5051846743393730882" /&gt;[Source picture from &lt;a href="http://www.aquahobby.com/magic/e_reflection.php"&gt;here&lt;/a&gt;].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang mulai berjualan ikan segar dipasar. Ia memasang papan pengumuman bertuliskan "DISINI JUAL IKAN SEGAR"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan tentang tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa kau tuliskan kata: DISINI ? Bukankah semua orang sudah tahu kalau kau berjualan DISINI, bukan DISANA?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar juga!" pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata "DISINI" dan tinggallah tulisan "JUAL IKAN SEGAR".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian datang pengunjung kedua yang juga menanyakan tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa kau pakai kata SEGAR? bukankah semua orang sudah tahu kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar juga" pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata "SEGAR" dan tinggallah tulisan "JUAL IKAN"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian datanglah pengunjung ke tiga yang juga menanyakan tulisannya: "Mengapa kau tulis kata JUAL? bukankah semua orang sudah tau kalau ikan ini untuk dijual, bukan dipamerkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata JUAL dan tinggallah tulisan "IKAN"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa waktu kemudian, datang pengunjung ke 4, yang juga menanyakan tulisannya: "Mengapa kau tulis kata IKAN?, bukankah semua orang sudah tahu kalau ini Ikan bukan Daging?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar juga" pikir sipenjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Renungan: Bila kita ingin memuaskan semua orang, kita takkan mendapatkan apa-apa!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Source: Email Forward]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linked to: &lt;a href="http://jrputra.blogspot.com/"&gt;JRP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-5790217151079897488?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/5790217151079897488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=5790217151079897488' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/5790217151079897488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/5790217151079897488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2007/04/just-for-me.html' title='jUsT fOr mE...'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ruwjaKIW4mE/RhvD2OeygUI/AAAAAAAAAAk/1sGilvl3vT8/s72-c/reflection.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-6182492987741413759</id><published>2007-04-10T21:41:00.000+05:30</published><updated>2007-04-10T22:08:58.153+05:30</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Contemplation'/><title type='text'>Mengerti tanpa mengetahui; Mendapatkan tanpa mencari</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ruwjaKIW4mE/Rhu6GOeygTI/AAAAAAAAAAc/0yNJuyaUjAA/s200/Yin-Yang-Harmony-Print-C10055545.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5051836023155360050" /&gt;[Source picture from &lt;a href="http://www.art.com/asp/sp.asp?PD=10055545&amp;RFID=765667"&gt;here&lt;/a&gt;]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah kisah yang tidak diketahui kapan pertama kali muncul dalam peradaban manusia. Kisah tentang dua orang bersahabat yang bernama Yin dan Yang. Mereka berdua adalah orang yang saleh, berjiwa besar, dan penuh cinta kasih. Mungkin suatu kebetulan bahwa nama mereka mengingatkan kita pada konsep Yin-Yang yang berlawanan itu, namun memang demikianlah, mereka (Yin dan Yang) selalu berlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yin mempunyai keyakinan atau agama yang berbeda dengan Yang. Mereka secara teratur bertemu untuk mendiskusikan keyakinan mereka, dengan tujuan mencari sesuatu yang tak mereka ketahui namanya. Walaupun mereka saling menghormati dan mengajukan argumentasi dengan penuh adab, namun pada setiap akhir pertemuan, mereka tidak pernah merasa puas. Segala cara dan metode diskusi yang diketahui telah mereka tempuh tapi tetap tidak menghasilkan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika nyaris frustasi, mereka mulai kehilangan kendali diri, dalam hati masing-masing mulai muncul rasa "lebih benar". Akhirnya tercetus kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yin: "Ah, seandainya engkau adalah aku, tentu akan bisa memahami apa yang ingin kusampaikan, dan diskusi ini akan dapat membawa kita lebih mengerti 'sesuatu' itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang: "Hei, aku juga berpikir begitu. Tapi bagaimana cara kita saling tukar diri kita?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena memang mereka tidak dapat saling tukar diri, maka tak lama kemudian mereka menemukan pemecahan yang disetujui paling tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diputuskan, Yin akan mempelajari agama/keyakinan Yang dan Yang akan mempelajari agama/keyakinan Yin. Dan karena mereka memang menginginkan hasil terbaik dan terbenar, maka mereka berikrar akan mempelajari dengan sepenuh hati, berusaha memahami dengan hati terbuka, tidak malah mencari-cari titik kelemahan yang akan&lt;br /&gt;digunakan untuk menyerang lawannya. Diputuskan, setelah 40 tahun mereka akan bertemu lagi untuk "duel sampai titik darah penghabisan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, 40 tahun kemudian, Yin dan Yang yang telah semakin tua, bertemu pada senja hari di tempat terakhir mereka bertemu. Mereka saling berpandangan, tak sepatah kata pun yang terucapkan. Sinar mata mereka penuh kasih yang menghanyutkan sukma, senyum mereka begitu halus dan tulus. Mereka saling memeluk. Resonansi getaran jiwa mereka pada angin yang membelai, pada daun-daun yang berbisik, pada seluruh relung ruang di jagad raya ini: "Saudaraku, kau selalu dalam aku, dan aku dalam engkau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu tak ada lagi diskusi, karena dalam pelukan itu mereka mengerti tanpa mengetahui dan mendapatkan tanpa mencari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Source: Email forward]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linked to: &lt;a href="http://jrputra.blogspot.com"&gt;JRP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-6182492987741413759?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/6182492987741413759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=6182492987741413759' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/6182492987741413759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/6182492987741413759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2007/04/mengerti-tanpa-mengetahui-mendapatkan.html' title='Mengerti tanpa mengetahui; Mendapatkan tanpa mencari'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ruwjaKIW4mE/Rhu6GOeygTI/AAAAAAAAAAc/0yNJuyaUjAA/s72-c/Yin-Yang-Harmony-Print-C10055545.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-6168852575256977342</id><published>2007-04-07T21:57:00.000+05:30</published><updated>2007-04-07T22:30:25.738+05:30</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><title type='text'>Tips Melatih Pikiran Terbuka</title><content type='html'>&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ruwjaKIW4mE/RhfLyYhmLHI/AAAAAAAAAAU/sCjeh_c1vN8/s200/openminded.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5050729573556563058" border="0" /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Picture taken from: &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://www.cis.edu.sg/pyp/open_minded.htm"&gt;here&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Source from: &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://palembangcyber.com/forum/viewtopic.php?t=600"&gt;here&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berdasarkan materi oleh: WikiHow&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Anda sudah membuka tips ini, janganlah berhenti pada judul. Teruslah membaca, pikiran Anda akan terbuka.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkan Anda, merasa diperlakukan tidak menyenangkan oleh orang lain? Saat sesuatu terjadi pada diri Anda, pernahkah Anda merasa bahwa itu adalah sebuah ketidakadilan? Pernahkan Anda, merasa sangat benar dan orang lain salah? Pernahkah Anda merasa sangat ingin untuk mencemooh sesuatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Anda rasakan mungkin benar, akan tetapi waspadalah untuk tetap selalu mencoba membuka pikiran Anda. Mengapa? Karena itu lebih menguntungkan. Karena itu juga lebih menyenangkan. Menjaga diri memang harus, tapi menjaga hati lebih harus.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pikiran terbuka, atau open mind, atau open minded, atau being open minded, telah terbukti menjadi salah satu ciri dari karakter orang-orang besar dan sukses. Sikap open minded-lah yang telah menjadikan mereka orang yang besar dan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah Anda renungkan gambaran berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sangat kaya, tidak berbahagia karena kuantitas kekayaannya. Banyak uang bukanlah tentang 'banyaknya uang'. Satu-satunya perihal kuantitatif yang melekat pada kebahagiaannya, adalah "kuantitas pilihan" sebagai konsekuensi dari kekayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau beli apa lagi Saya hari ini?" "Siapa lagi yang mau Saya kasih uang?"&lt;br /&gt;"Anak Saya sakit, baiknya masuk ke rumah sakit mana ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang punya rumah banyak, tidak berbahagia karena kuantitas rumahnya. Kekayaannya terletak pada pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayangku, weekend kali ini mau nginep di villa kita yang mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang punya banyak mobil, tidak senang karena kuantitas mobilnya. Ia senang karena kuantitas pilihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hari ini Aku mau pake Jaguar merah aja deh. Besok baru Ferrari yang biru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berkuasa, hanya berbahagia jika ia memahami kuantitas dan kualitas pilihan yang muncul dari kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan kuasa yang Saya punya, apa yang bisa Saya lakukan untuk membantu orang banyak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah kini Anda mengerti, betapa kayanya orang yang kaya? Maukah Anda mengetahui, resep apa yang mereka coba? Resep itu adalah berpikiran terbuka. Dan Anda bisa menjadi kaya saat ini juga, dengan memperbanyak pilihan. Di antaranya, dengan lebih membuka pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut definisinya, open minded kurang lebih adalah: "Having or showing receptiveness to new and different ideas or the opinions of others."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikiran terbuka, akan membuka pikiran Anda. Jadi, Anda pikirkan saja. Berpikiran terbuka akan mencegah pikiran buntu dan mampet. Berpikiran terbuka akan mencegah Anda dari berpikiran sempit. Anda bisa membayangkan, apa jadinya jika Anda selalu saja menolak buah pikir orang lain, menolak ide bawahan, atau bahkan menolak sesuatu yang orang pada umumnya menerima. Berpikiran terbuka akan mengeksplorasi pikiran Anda, sehingga Anda menjadi lebih kreatif, intuitif, dan reseptif. Itu artinya, makin tinggi pula peluang kesuksesan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreatif, tampil beda, memang sebuah kelebihan. Akan tetapi, tidak sepatutnya hal itu membuat Anda menjadi orang yang berpikiran sempit dan senang mencemooh. Berpikiran terbuka, akan menjadikan Anda lebih cerdas, lebih berenergi, lebih sosial, lebih kreatif, dan tentu saja; lebih terbuka pada pengalaman dan cara pandang yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara melatihnya, berikut ini tips mudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;STIMULASI TELINGA ANDA DENGAN MUSIK BERBEDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stimulasilah telinga Anda dengan mendengarkan jenis musik, yang Anda jarang atau belum pernah mendengarnya. Belajarlah untuk mengapresiasinya. Dangdut, Keroncong, Gambang Kromong, Campursari, Classical, New Age, Zouk, Rap, Mariachi, Country, Afro-Blues dan sebagainya. Anda memang tak perlu menyukai atau mencanduinya. Anda hanya mencoba lebih terbuka dan belajar mengapresiasinya. Yang namanya musik, selalu menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;STIMULASI MATA ANDA DENGAN PANDANGAN BERBEDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmati memandang hal-hal yang berbeda. Cobalah menikmati berbagai bentuk seni visual. Sering-seringlah memandang segala sesuatu, yang bukan melulu kertas, layar monitor, wajah kolega, bawahan atau atasan, atau bahkan sekedar wallpaper di tembok kantor saja. Tontonlah film horor, jika selama ini Anda menghindarinya. Apapun yang menjadi objek pandangan Anda, sepanjang itu tidak buruk atau menjadikan dosa, sekalipun Anda tidak menyukainya, tetaplah berfungsi dengan sebaik-baiknya, yaitu menstimulasi dan memprovokasi pikiran Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;STIMULASI LIDAH ANDA DENGAN MAKANAN YANG BERBEDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting halal dan enak. Cobalah Kebab Afrika. Nikmati sushi. Tinggal Anda pilih saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PELAJARI PERBEDAAN TENTANG ORANG DAN GAYA HIDUPNYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, pelajari saja. Anda tidak perlu menjadi bagian darinya. Apalagi, jika itu memang tidak sesuai dengan sistem tata nilai Anda. Dengan belajar, wawasan Anda akan menjadi kaya. Pikiran Anda akan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PELAJARI SESUATU YANG BARU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basket, golf, terjun payung atau bungee jumping jika perlu.&lt;br /&gt;Web design, internet, taichi, aikido.&lt;br /&gt;Komunikasi, public speaking...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MILIKI KEMAMPUAN BARU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlatih juggling dengan tiga bola? Tidak mungkin? Tetaplah berlatih dengan pikiran terbuka. Anda bisa.&lt;br /&gt;Berlatihlah sulap kartu. Pelajari ping-pong.&lt;br /&gt;Tulislah puisi, cerpen atau novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SAAT BERADA DI ANTRIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Menghitung&lt;br /&gt;# Mengingat&lt;br /&gt;# Memperhatikan&lt;br /&gt;# Membandingkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buset dah, ini antrian panjang banget. Coba ada berapa orang sih..."&lt;br /&gt;"Pintu exit di sana, tangga darurat di situ, toilet ke arah sini..."&lt;br /&gt;"Ini yang namanya barcode ya? Gimana sih bikinnya... Kok cuman garis-garis tapi bisa di-scan trus keluar informasi sama harganya..."&lt;br /&gt;"Kalo di bioskop yang sono sih, penontonnya tua-tua semua..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IKUTI KELAS DAN EVENT YANG TIDAK UMUM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikuti kursus "Shalat Khusuk"&lt;br /&gt;Ambil bagian di seminar "Sukses Bermodal Dengkul"&lt;br /&gt;Jadilah peserta "Lomba Lari Mundur"&lt;br /&gt;Ikuti "Workshop EDAN"&lt;br /&gt;Aktiflah di "Kelompok Penggemar Jangkrik"&lt;br /&gt;Jangan tolak quesioner "Apakah Anda Sudah Gila?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;UBAH TEMPAT FAVORIT ANDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasa ke Anyer? Cobalah Pulau Puteri.&lt;br /&gt;Suka laut? Pergilah ke gunung.&lt;br /&gt;Suka gunung? Ke laut aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubah juga rute yang menjadi kebiasaan Anda. Cobalah perjalanan baru. Kemudikanlah sendiri kendaraan Anda, dari Jakarta ke Medan umpamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEMBANGKAN KREATIFITAS ANDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjakan teka-teki silang dengan berbagai variasinya.&lt;br /&gt;Mainkan jangan hanya solitaire, tapi juga spider solitaire.&lt;br /&gt;Belajarlah menulis terbalik yang hanya bisa dibaca di depan kaca. Leonardo Da Vinci, melakukannya untuk semua catatannya.&lt;br /&gt;Bongkar PC Anda dan rakit kembali. Lakukan overclok. Montiri kendaraan Anda sendiri.&lt;br /&gt;Pakai pakaian yang Anda geli memakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HADAPI KETAKUTAN ANDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Takut bicara, bicaralah.&lt;br /&gt;Takut ketinggian? Naiklah pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun yang terjadi, ketakutan hanyalah perasaan. Dalam banyak kasus, ia tidak berakibat apa-apa kecuali hanya rasa takut saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LATIHAN W.A.I.T&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What Am I Thinking?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap kali Anda bisa melakukannya. Seperti sekarang misalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PELAJARI PERSPEKTIF ORANG LAIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang penting baginya?&lt;br /&gt;Apa yang disadari dan tidak disadarinya?&lt;br /&gt;Apakah pikirannya sama terbukanya dengan Anda?&lt;br /&gt;Apa sih niat positif di belakang kelakuan orang ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda selalu melihat gedung A dari sisi kiri jalan, cobalah melihatnya dari sisi kanan jalan, dan rasakan perbedaan persepsi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda sering menonton TV bersama seseorang, matikan TV Anda dan mulailah mengobrol dengannya. Perpanjang waktu mengobrol Anda dan perpendek waktu menonton Anda. Mulailah rasakan bagaimana itu lebih nikmat daripada menonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TIPS TAMBAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efisienlah dengan memilih aktivitas yang murah bagi Anda.&lt;br /&gt;Efisienlah dengan waktu latihan Anda.&lt;br /&gt;Jadilah berani. Jangan pernah malu jika itu memang tidak memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan terdiskriminasi oleh trend atau mode. Pakaian Anda sudah ketinggalan jaman? Tidak, itu modis dan trendy untuk Anda. Sepatu Anda terlalu klasik atau konservatif? Tidak, itu modis dan trendy untuk Anda. Mobil Anda butut? Tidak, itu adalah sedan keluaran '84 favorit Anda. Modis, dan trendy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;WARNING&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be safe. Jagalah keselamatan diri dan hati Anda. Jagalah keselamatan hubungan Anda dengan siapa saja. Jangan memaksa untuk sesuatu yang terlalu berat untuk Anda. Ingatlah bahwa tujuan memiliki pikiran terbuka, adalah mengembangkan pikiran yang sempit. Jangan sampai, pikiran Anda malah tambah sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dasar dari semua latihan ini, adalah mencoba terbuka dan menjadi terbuka. Menemukan hal baru, belajar keahlian baru, belajar cara berpikir yang baru. Lakukanlah dengan kreatif. Lakukanlah dengan impulsif. Lakukan dengan terbuka. Lakukanlah apa yang belum tercantum di dalam daftar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap keputusan yang Anda buat di dalam hidup, didasarkan pada sistem tata nilai dan keyakinan Anda. Untuk menjadikan pikiran Anda lebih terbuka, mulailah dari dasar sistem tata nilai dan keyakinan Anda. Kemudian bertanyalah, "Mengapa Saya meyakininya?" Kemudian tanya juga diri Anda, apa yang terjadi pada diri Anda jika Anda tidak lagi meyakininya, dan meyakini hal baru yang bisa jadi sangat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertanyalah pada orang lain tentang apa yang diyakininya. Tanyakan pada mereka, bagaimana mereka bisa memperolehnya. Pahamilah perbedaannya dari diri Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka temukanlah bahwa Anda, dengan sistem tata nilai dan keyakinan Anda, adalah absolut uniknya. Begitu pula mereka. Sistem tata nilai dan keyakinan teman Anda adalah unik bagi mereka. Anda sendiri, pada dasarnya adalah Anda yang "Gue banget." Mereka pun, "Mereka banget."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran terbuka akan menangguk kenyamanan menghadapi berbagai perbedaan. Pikiran terbuka memberi pilihan lensa untuk suatu objek pemotretan. Pikiran terbuka, akan memperkaya pilihan. Itulah yang dapat membuat Anda sukses dan berjaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, pikiran Anda sudah lebih terbuka sekarang. Bagaimana dengan ini, meneruskan tips ini kepada teman-teman Anda barangkali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://milis-bicara.blogspot.com/"&gt;Ikhwan Sopa&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linked to: &lt;a href="http://jrputra.blogspot.com/"&gt;JRP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-6168852575256977342?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/6168852575256977342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=6168852575256977342' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/6168852575256977342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/6168852575256977342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2007/04/tips-melatih-pikiran-terbuka.html' title='Tips Melatih Pikiran Terbuka'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ruwjaKIW4mE/RhfLyYhmLHI/AAAAAAAAAAU/sCjeh_c1vN8/s72-c/openminded.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-8309315518601556258</id><published>2007-04-05T22:03:00.000+05:30</published><updated>2007-06-09T22:14:04.627+05:30</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><title type='text'>Pintar, tetapi Tertutup?</title><content type='html'>Ini ada artikel bagus untuk refleksi dan pencerahan diri.. Enjoy! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Rhenald Kasali&lt;br /&gt;http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0705/ 19/opini/ 3538418.htm&lt;br /&gt;============ ========= ===&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Genom, yang ditulis Matt Ridley, ada nama Joe-Hin Tjio. Disebutkan, Joe, orang Indonesia, telah berperan penting dalam upaya manusia mengurai sandi-sandi yang tersimpan dalam DNA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya yang dilakukan tahun 1955 itu telah menjembatani karya spektakuler Francis Crick dan James Watson (penemu teori DNA dalam genetika biologi) dengan turunannya, yaitu genetika perilaku. Bersama Albert Levan, Joe-Hin Tjio berhasil mengurai bahwa genetika manusia terdiri atas 23 pasang sel kromosom, bukan 24, seperti dimiliki spesies kera. Proses evolusi menggabungkan dua pasang kromosom kera pada kromosom dua sehingga terwujud sosok manusia. Demikian dijelaskan pakar teori evolusi yang menyaksikan perbedaan pada kromosom dua itu, yang tampak pada pola pita-pita hitam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berkat temuan itu, kini para ahli berhasil membaca karakter-karakter apa yang disimpan pada setiap pasang dari 23 sel kromosom manusia, mulai dari kecerdasan, konflik, stres, kepribadian, seks, sampai kemampuan merakit diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit-bibit pintar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joe-Hin Tjio adalah fakta pintarnya orang-orang asal Indonesia. Fakta-fakta lain, diurai Prof Yohanes Surya, yang berhasil mengibarkan bendera Indonesia di antara pelajar asing yang bertarung dalam Olimpiade fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohanes Surya telah membawa putra- putri asal Irian Jaya, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, sampai Pulau Jawa, yang ternyata tidak kalah pintar dengan pelajar asing. Padahal, kalau kita jujur, berapa besar investasi yang ditanamkan di bidang pendidikan dibandingkan dengan investasi serupa di negara-negara blok Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang bisnis, putra-putri Indonesia juga tidak kalah pintar. Pada akhir abad ke-20, dua kakak-beradik, Sehat dan Pantas Sutarya, terpilih sebagai orang terkaya di bawah usia 40 tahun di Amerika Serikat. Dua alumnus SMA Kanisius, Jakarta, itu diketahui merantau ke AS sekitar tahun 1980-an dan bersekolah di kampus bergengsi di sana, lalu melakukan penemuan spektakuler di bidang teknologi informasi dan&lt;br /&gt;berhasil mengapitalisasinya melalui pasar modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana-mana di Indonesia, orang menginginkan anak-anaknya menjadi juara kelas. Perbincangan di kalangan orangtua yang menjemput anak-anaknya di berbagai sekolah (khususnya sekolah dasar) juga tidak lebih dari soal prestasi belajar. Melalui pertanyaan, apa yang membuat para ibu/bapak bangga terhadap anak- anaknya, selalu dijawab: juara kelas. Keinginan itu dijawab sejumlah pedagang. Mereka menawarkan&lt;br /&gt;kursus-kursus berhitung, buku, bahkan aneka seminar yang menjanjikan anak-anak bisa diubah seketika menjadi super-rajin dan superpintar. Bahkan, ada yang menjanjikan dua hal sekaligus: pintar dan cepat kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbuka dan kreatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepintaran seseorang dalam dunia akademis bukan penentu tunggal dalam kesuksesan hidup. Bahkan, bukan itu pula tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan adalah untuk memperbaiki cara berpikir seseorang, sekaligus membebaskan manusia dari berbagai belenggu mitos yang mengikatnya. Prosesnya pun panjang, antara 12-18 tahun. Dalam rentang waktu panjang itu sulit ditemui orang yang begitu persisten, pandai secara akademis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah menemukan ada orang-orang yang memiliki pola bekerja dan belajar seperti mesin diesel, yang panasnya memerlukan waktu. Lebih mengagetkan lagi, mereka yang pintar secara akademis belum tentu pintar di dunia bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hukum genetika perilaku, unsur-unsur pembentuk kepribadian manusia tersimpan dalam bentuk sandi-sandi. Salah satu unsur penting dalam sandi itu adalah huruf O yang mengandung makna keterbukaan (Open mind atau Openness to experience). Dengan demikian, kita mengenal dua jenis manusia pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, orang-orang pintar yang dikenal sebagai wirausaha sukses yang berhasil membangun berbagai perusahaan besar dan penerima hadiah nobel diketahui memiliki unsur O amat tinggi. Mereka memiliki banyak minat, terbuka terhadap hal-hal baru, kritis, imajinatif, cenderung fleksibel, dan menyukai originalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kepintaran mereka berbeda dengan orang-orang yang suka menghabiskan waktu sia-sia sejak di SD yang hanya mengejar nilai tinggi di sekolah. Mereka ini memang pintar, tetapi unsur O mereka bisa jadi amat rendah. Banyak ditemui orang-orang, yang meski berpendidikan tinggi, cenderung reaktif, defensif, bahkan dogmatik.&lt;br /&gt;Meski tidak semua orang pintar bersikap demikian, orang-orang yang tertutup punya kecenderungan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, mereka amat resisten dengan hal-hal berbau pembaruan. Bahkan, mereka ingin cepat menyerang, bukan memikirkan atau memeriksa segala hal yang bertentangan dengan pendapatnya atau ilmu yang dianutnya. Mereka tidak welcome terhadap fakta-fakta baru, bahkan cenderung menyangkalnya. Orang-orang seperti ini, meski track-record sekolahnya terbilang pandai dan kemampuan berteorinya tinggi, adalah orang-orang yang tertutup sehingga kurang adaptif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebuah institusi dipimpin atau banyak dipimpin oleh orang-orang pintar tipe kedua, dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi dengan masa depan institusinya. Kinerjanya akan terus merosot, penerimaan publik dan respek terhadapnya berkurang, tetapi oknum-oknum pintar itu selalu menyangkalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini berbeda dengan berbagai organisasi yang dipimpin orang-orang yang memiliki cara pandang yang terbuka (pintar tipe pertama). Orang-orang dengan sandi O yang tinggi ini terlihat demikian bergairah mengeksplorasi hal-hal baru dan cenderung kreatif. Mereka juga bukan pemarah yang mudah larut dimakan gosip, tetapi pemberani yang mewujudkan impian baru di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu memikirkan kembali makna pembelajaran, yaitu apakah untuk membebaskan diri dari berbagai belenggu dengan cara lebih terbuka, atau hanya untuk memintarkan secara akademis. Tentu jauh lebih baik membebaskan mereka dari ketertutupan daripada membesarkan orang- orang pintar, tetapi otaknya tertutup. Seperti kata Albert Einstein, "Ukuran kecerdasan manusia sebenarnya terletak pada kemampuannya untuk&lt;br /&gt;berubah." Itulah makna kecerdasan, yang terkait erat dengan keterbukaan dalam berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Rhenald Kasali Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linked to: &lt;a href="http://jrputra.blogspot.com"&gt;JRP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-8309315518601556258?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/8309315518601556258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=8309315518601556258' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/8309315518601556258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/8309315518601556258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2007/04/pintar-tetapi-tertutup.html' title='Pintar, tetapi Tertutup?'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-4596341769572077034</id><published>2007-04-03T00:22:00.000+05:30</published><updated>2007-04-05T04:13:49.159+05:30</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mind Set'/><title type='text'>It's Dark Before Dawn</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ruwjaKIW4mE/RhFTmHiwC-I/AAAAAAAAAAM/9piNVX3GjfU/s200/getimage1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5048908571583974370" /&gt;If intense and prolonged crisis has entered your life, don’t give up, says &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://timesofindia.indiatimes.com/"&gt;Nicholas Schmidt&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You cannot find light unless you enter darkness. Dark night of the soul, spiritual crisis, spiritual madness, spiritual emergency, divine madness, holy madness... these are various phrases that have been used to describe a unique experience — a profound test of faith and spiritual endurance — that seems to be a necessary part of walking the path home to God.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Today, many people on this planet are searching for a deeper meaning and purpose to life. Struggling for survival and happiness in the material world just doesn’t seem to satisfy the human potential anymore. More and more we’re becoming bored and frustrated with the routine of everyday life, whether it’s with our careers, our personal lives or our relationships with other people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deep inside, we’re beginning to realise that our hunger for the material comforts and pleasures of life eventually leaves us feeling empty and incomplete. We then begin to suspect that lasting peace and happiness is an “inner” thing. As a result, many of us are looking into the spiritual or mystical realms for a greater sense of purpose, direction and meaning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the process we find ourselves asking "Who am I, what am I doing here, or what's my real purpose on this planet?" If we are ready, these kinds of questions will awaken a yearning deep within that inspires us to look for answers. Other times a serious life crisis can have the same effect. In the end, we find that we’re really searching for God. Our search for the truth helps us to awaken spiritually and, more importantly, to remember who we really are. This new insight can be the most profound experience of one's lifetime, an ecstatic rush of joy and enlightenment that is difficult to describe to those who have yet to reach this point. After this&lt;br /&gt;awakening experience or shift in awareness occurs, we begin to look at the old ways and false beliefs of life with less interest, while our re-connection with the divine becomes clearer and feels more natural. The old way simply doesn't interest us anymore, while the new way is all that matters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somewhere along the journey of remembering who we really are, we may find ourselves in a very uncomfortable space, a void in which we realise that we haven’t totally let go of our old beliefs, and on the other hand we have yet to fully plug into the new truths we have discovered. This awkward “place of mind” can bring on an internal crisis of uncertainty, instability, confusion, frustration, and a most unspeakable despair as the “dark night” sets in and makes its presence felt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is ironic that along with the rapture of remembering our divine connection, there can be intense feelings of depression, madness, detachment, hopelessness and an extraordinary loneliness that is not only relentless but may last for months or years on end. Then comes the waiting, and the wondering if and when the dark night will ever end. Ultimately, it feels as though we have lost control over our lives and, most importantly, that God has truly abandoned us. Throughout history various cultures provided special care and loving support for their tribal members in spiritual crisis.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;If this kind of intense and prolonged crisis has entered your life, please don’t give up! When the madness is over, when one finally “lets go” in an act of surrender, acceptance and trust in what God is accomplishing with you — without resignation and with gratitude for the experience — the dark night will end. At that point, ego will no longer dictate the path of your life, and a Light will shine through bringing with it a new spiritual adventure and purpose in life. Your path will then be guided by a series of divinely influenced synchronous events, and your real mission for this lifetime will unfold and fall into place as if by magic.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;An example of a “dark night” sequence of events: Things in life seem to be going along quite smoothly. Then, unexpectedly, we have a serious life crisis such as career failure, divorce, a health problem, a serious addiction, financial collapse, a near death experience, etc. or any combination of such events.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;At some point the crisis/anguish becomes so intense that we drop to the floor and, in a climactic act of desperation, cry out “God, help me!” God begins to help immediately, most often in ways that are contrary to what we expect. (Put your seat belt on at this time!) The crisis usually jumpstarts the search for spiritual truth. Each new “insight” we discover brings on the death of an old “false belief” we’ve been programmed to accept throughout our lives. This starts to seriously threaten our egos, and a severe test of faith begins that can last for months or years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linked to: &lt;a href="http://jrputra.blogspot.com"&gt;JRP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-4596341769572077034?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/4596341769572077034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=4596341769572077034' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/4596341769572077034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/4596341769572077034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2007/04/its-dark-before-dawn.html' title='It&apos;s Dark Before Dawn'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ruwjaKIW4mE/RhFTmHiwC-I/AAAAAAAAAAM/9piNVX3GjfU/s72-c/getimage1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116751576899850228</id><published>2006-12-31T02:42:00.000+05:30</published><updated>2007-04-05T04:21:10.147+05:30</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Contemplation'/><title type='text'>Aloneness is the First Lesson of Love</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Excerpted from The Discipline of Transcendence, courtesy Osho International Foundation. www.osho.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Without the other we don't know who we are, we lose our identity. The other becomes a mirror and we can see our faces in it. Without the other we are suddenly thrown to ourselves. We are greatly inconvenienced because we don't know who we are when we are alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With the other, things are clear, defined. We know the name, we know the form, we know the person. There are some ways to define the other. How to define yourself?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Deep down there is an abyss... undefinable emptiness. You start merging into that. It creates fear. You become frightened. You want to rush towards the other. The other helps you to remain out. When there is nobody you are simply left with your emptiness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nobody wants to be alone. The greatest fear in the world is to be left alone. People do a thousand and one things just not to be left alone. You imitate your neighbours so you are just like them. You lose your individuality, you lose your uniqueness, you just become imitators, because otherwise, you will be left alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You become part of a crowd, a church, an organisation. Somehow you want to merge with a crowd where you can feel at ease, so that you are not alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To be alone is really the greatest miracle. That means now you don't belong to any church or organisation, you don't belong to any theology or ideology, you don't belong, you simply are. And you have learnt how to love your indefinable, ineffable reality. You have come to know how to be with yourself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loneliness is absence of the other. Aloneness is the presence of oneself. Aloneness is very positive. It is an overflowing presence. You are so full of presence that you can fill the whole universe with your presence and there is no need for anybody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If the whole world dissapears this zen master will not miss anything; he will be as happy as ever. He will love that tremendous emptiness, this pure infinity. He will not miss anything because he has arrived home. He knows that he himself is enough unto himself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This does not mean that a man who has become enlightened and has come home does not live with others. In fact, only he is capable of being with others. Because he is capable of being with himself he becomes capable of being with others. If you are not capable of being with yourself, how can you be capable of being with others?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A man who loves his aloneness is capable of love, and man who fells loneliness is incapable of love. A man who is happy with himself is full of love, flowing. He does not need anybody's love, hence he can give. When you are in need how can you give? You are a beggar. And when you can give, much love comes towards you. It is a natural response. The first lesson of love is to learn how to be alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Try it, to have the feel. Just sit alone sometimes. That's what meditation is all about--just sitting alone, doing nothing. If you start feeling lonely then there is something missing in your being, then you have not been able yet to understand who you are.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then go deeper into this loneliness until you come to a layer when suddenly loneliness transforms itself into alonenesss. Loneliness is the negative aspect of aloneness. If you go deeper into it one moment is bound to come when suddenly you will start feeling the positive aspect of it. Because both aspects are always together.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linked to: &lt;a href="http://jrputra.blogspot.com"&gt;JRP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116751576899850228?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116751576899850228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116751576899850228' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116751576899850228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116751576899850228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/12/aloneness-is-first-lesson-of-love.html' title='Aloneness is the First Lesson of Love'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116724952254686209</id><published>2006-12-28T01:26:00.000+05:30</published><updated>2007-04-10T23:26:14.341+05:30</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><title type='text'>Reading Minds and Judging People</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ruwjaKIW4mE/RhvPSeeygVI/AAAAAAAAAAs/ao6vf72B3v4/s200/MindSetColor.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5051859323352940882" /&gt;People think that by knowing other people, or reading their minds, we can be effective in the world.  This is not true. If you know yourself, you can become very effective. If you do not make any attempt to read, perceive or judge something, but simply learn to look at everything the way it is, you will see things the way they are. But if you make an effort  to read people's minds-maybe sometimes you will, because after all you do have a mind-you can read certain things, you have perception, you can judge, but these judgments, what will you do with them?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, this is not a judgment, this is not a reading. This is a deeper understanding of life, that first when you meet a person, you bow down to the source of life within her, with that you have no conflict or have no judgment. First address that dimension. Once you have adressed the source of life, body, mind, all these things are minor aspects. You have no great struggle with all those things. If you go about trying to read people, invariably it is a judgment, isn't it?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;No human being is constant. Today she may be something that you don't like. Tomorrow morning she may be in a wonderful mood. But if you think you have read and made an impression of that person in the past, then you will miss that person the way she is right now, isn't it?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Once you get into that, it's a trap. Even if your mind makes judgments about other people, don't attach any importance to it. Because  once you start making judgments, invariably, there are only two basic judgments; this is good, this is bad. Everything that you consider as good, naturally you are drawn to it and get attached to it. Everything that you consider as bad, you get repelled from it, and negative emotions will flow. So there is no need to judge. You just have to judge situations. You don't have to judge people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Source: Unknown]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linked to: &lt;a href="http://jrputra.blogspot.com"&gt;JRP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116724952254686209?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116724952254686209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116724952254686209' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116724952254686209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116724952254686209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/12/reading-minds-and-judging-people.html' title='Reading Minds and Judging People'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ruwjaKIW4mE/RhvPSeeygVI/AAAAAAAAAAs/ao6vf72B3v4/s72-c/MindSetColor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116695466971936507</id><published>2006-12-24T15:33:00.000+05:30</published><updated>2007-04-05T04:30:38.793+05:30</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Entertainment'/><title type='text'>lagu-lagu Aisyah (Malaysia)</title><content type='html'>Hi friends ini ada lagu-lagunya Aisyah (Malaysia)... so bagi yang suka bisa download disini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://www.mediafire.com/?8mgmttkiztt" target="new"&gt;Melukut di tepi gantang.mp3 (4.31 MB) &lt;/a&gt; &lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://www.mediafire.com/?8zjnjemzozz" target="new"&gt;Kurnia.mp3 (4.33 MB)&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://www.mediafire.com/?dztdmo5wmzz" target="new"&gt;Kasihnya Balqis.mp3 (4.41 MB)&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;4. &lt;a href="http://www.mediafire.com/?8n1znnznyzg" target="new"&gt;Tiada lagi tangisan.mp3 (4.83 MB)&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;5. &lt;a href="http://www.mediafire.com/?cojjmjwtnyu" target="new"&gt;Hanya Kerna Mu.mp3 (4.55 MB)&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;6. &lt;a href="http://www.mediafire.com/?6zzehyutzhn" target="new"&gt;Haruskah Aku Menyuarakan.mp3 (3.15 MB)&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;7. &lt;a href="http://www.mediafire.com/?coqg5yyct2n" target="new"&gt;Berikan Harapan.mp3 (4.25 MB)&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;8. &lt;a href="http://www.mediafire.com/?7ykytmlytng" target="new"&gt;Songkok Mereng.mp3 (4.4 MB)&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;9. &lt;a href="http://www.mediafire.com/?6zi1gmuihqz" target="new"&gt;Daun-daun Berguguran.mp3 (3.3 MB)&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gak ada lagi boss cuma itu!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linked to: &lt;a href="http://jrputra.blogspot.com"&gt;JRP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116695466971936507?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116695466971936507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116695466971936507' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116695466971936507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116695466971936507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/12/lagu-lagu-aisyah-malaysia.html' title='lagu-lagu Aisyah (Malaysia)'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116663863466891407</id><published>2006-12-20T23:30:00.000+05:30</published><updated>2007-04-05T04:35:20.560+05:30</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Contemplation'/><title type='text'>Titip Ibuku ya Allah</title><content type='html'>Assalamu’alaikum wr wb&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;dr milis sebelah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;____________ From: Msy. Nola Indri Sent: Tuesday, November 14, 2006 9:26 AM To: Eka Lusia Septiani; Dini Hartiwi; Liana Surayya; Fitriani Chandra; Mirna Amidyah; Amelia Apriyanti; Ajeng Agustina Nathasia; A. Haikal; Jenny Rochaya; Melani Kartikasari; Yolanda Silaban; Machmud Badarudin; Muhammad Annas (Palembang); Muchlis Sarjono; Eka Rubiyanti; Eka Lestari; Dini Diamayanti; Diah Mahfudiah; Desi Apriyani; Desi Fithriyah; Dwi Susilawati; Tedi Rivaida; Doni Andrian; abdul_aziz2809; Arduna_Hasan; Laila Sari; Hanna Linda Agustina; R.M. Arie Febriansyah; Deita Widyanti; Helis Soleha; Adi Nurishal; Bagus Dharma Bhilawa; M. Azwara Eka Putra Subject: FW: Titip Ibuku ya Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(maaf buat temen2 semua: sengaja aku posting ini utk kliping pribadi karena bagus, ini memang bukan tulisan saya dapet dari milis yang tanpa mencantumkan nama penulisnya... dan kalau ada yang merasa ini tulisannya saya minta maaf dan akan dicantumkan nama penulisnya :))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Titip Ibuku ya Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, bangun… udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja…” Tradisi ini sudah berlangsung sejak kecil, sejak pertama kali aku bisa mengingat. menganjak umur 12 th sudah meninggalkanya ^_^Kini usiaku sudah kepala 20 dan aku jadi seorang Karyawan disebuah Perusahaan suasta ., tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah. “Ibu sayang… ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa.” pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Punketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.&lt;br /&gt;Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca .. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ….. tapi entahlah…. Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya “Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ?”&lt;br /&gt;Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana . Terbata-bata Ibu berkata, “Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu. Ibu menjawab “Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.”&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku hanya bisa berucap “Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu.” Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk “cuti” dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis, Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi…&lt;br /&gt;Ah, maafin kami Ibu … 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak… bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. ” Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan “terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, Ibu… Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat Dirimu.. Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “aku sayang padamu… “, namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita … Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia..&lt;br /&gt;Wallaahua’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah,cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu…” dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil”&lt;br /&gt;“Titip Ibuku ya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linked to: &lt;a href="http://jrputra.blogspot.com"&gt;JRP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116663863466891407?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116663863466891407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116663863466891407' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116663863466891407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116663863466891407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/12/titip-ibuku-ya-allah.html' title='Titip Ibuku ya Allah'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116306133051469877</id><published>2006-11-09T14:05:00.000+05:30</published><updated>2007-04-05T04:41:54.157+05:30</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Contemplation'/><title type='text'>Wanita Solehah :</title><content type='html'>&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/viewphoto.jpg" border="0" alt="" /&gt;Wanita yang didunianya solehah akan menjadi cahaya bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang baik dan jika wafat di akhirat akan menjadi bidadari. Hikam: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraz-nya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraz-nya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah saw bersabda: "Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang solehah." (HR. Muslim) Wanita solehah merupakan penentram batin, menjadi penguat semangat berjuang suami, semangat ibadah suami. Suami yakin tidak akan dikhianati, kalau ditatap benar-benar menyejukkan qolbu, kalau berbicara tutur katanya menentramkan batin, tidak ada keraguan terhadap sikapnya. Pada prinsipnya wanita solehah adalah wanita yang taat pada Allah, taat pada Rasul. Kecantikannya tidak menjadikan fitnah pada orang lain. Kalau wanita muda dari awal menjaga dirinya, selain dirinya akan terjaga, juga kehormatan dan kemuliaan akan terjaga pula, dan dirinya akan lebih dicintai Allah karena orang yang muda yang taat lebih dicintai Allah daripada orang tua yang taat. Dan, Insyaallah nanti oleh Allah akan diberi pendamping yang baik. Agar wanita solehah selalu konsisten yaitu dengan istiqomah menimba ilmu dari alam dan lingkungan di sekitarnya dan mengamalkan ilmu yang ada. Wanita yang solehah juga dapat berbakti terhadap suami dan bangsanya dan wanita yang solehah selalu belajar. Tiada hari tanpa belajar. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Aa Gym)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linked to: &lt;a href="http://jrputra.blogspot.com"&gt;JRP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116306133051469877?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116306133051469877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116306133051469877' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306133051469877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306133051469877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/11/wanita-solehah.html' title='Wanita Solehah :'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116306091649712544</id><published>2006-11-09T13:57:00.000+05:30</published><updated>2006-11-09T21:22:28.843+05:30</updated><title type='text'>Suami, Pemimpin Bagi Keluarga</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/DSCN1423.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/DSCN1423.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal mula kehidupan seseorang berumah tangga dimulai dengan ijab-kabul. Saat itulah yang halal bisa jadi haram, atau sebaliknya yang haram bisa jadi halal. Demikianlah ALLOH telah menetapkan bahwa ijab-kabul walau hanya beberapa patah kata dan hanya beberapa saat saja, tapi ternyata bisa menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. &lt;br /&gt;Saat itu terdapat mempelai pria, mempelai wanita, wali, dan saksi, lalu ijab-kabul dilakukan, sahlah keduanya sebagai suami-istri. Status keduanya pun berubah, asalnya kenalan biasa tiba-tiba jadi suami, asalnya tetangga rumah tiba-tiba jadi istri. Orang tua pun yang tadinya sepasang, saat itu tambah lagi sepasang. Karenanya, andaikata seseorang berumah tangga dan dia tidak siap serta tidak mengerti bagaimana memposisikan diri, maka rumah tangganya hanya akan menjadi awal berdatangannya aneka masalah. &lt;br /&gt;Ketika seorang suami tidak sadar bahwa dirinya sudah beristri, lalu bersikap seperti seorang yang belum beristri, akan jadi masalah. Dia juga punya mertua, itupun harus menjadi bagian yang harus disadari oleh seorang suami. Setahun, dua tahun kalau ALLOH mengijinkan akan punya anak, yang berarti bertambah lagi status sebagai bapak. Ke mertua jadi anak, ke istri jadi suami, ke anak jadi bapak. Bayangkan begitu banyak status yang disandang yang kalau tidak tahu ilmunya justru status ini akan membawa mudharat. Karenanya menikah itu tidak semudah yang diduga, pernikahan yang tanpa ilmu berarti segera bersiaplah untuk mengarungi aneka derita. Kenapa ada orang yang stress dalam rumah tangganya? Hal ini terjadi karena ilmunya tidak memadai dengan masalah yang dihadapinya. &lt;br /&gt;Begitu juga bagi wanita yang menikah, ia akan jadi seorang istri. Tentusaja tidak bisa sembarangan kalau sudah menjadi istri, karena memang sudah ada ikatan tersendiri. Status juga bertambah, jadi anak dari mertua, ketika punya anak jadi ibu. Demikianlah, ALLOH telah menyetingnya sedemikian rupa, sehingga suami dan istri, keduanya mempunyai peran yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa menuntut emansipasi, karena memang tidak perlu ada emansipasi, yang diperlukan adalah saling melengkapi. Seperti halnya sebuah bangunan yang menjulang tinggi, ternyata dapat berdiri kokoh karena adanya prinsip saling melengkapi. Ada semen, bata, pasir, beton, kayu, dan bahan-bahan bangunan lainnya lalu bergabung dengan tepat sesuai posisi dan proporsinya sehingga kokohlah bangunan itu.&lt;br /&gt;Sebuah rumah tangga juga demikian, jika suami tidak tahu posisi, tidak tahu hak dan kewajiban, begitu juga istri tidak tahu posisi, anak tidak tahu posisi, mertua tidak tahu posisi, maka akan seperti bangunan yang tidak diatur komposisi bahan-bahan pembangunnya, ia akan segera ambruk tidak karu-karuan. Begitu juga jika mertua tidak pandai-pandai jaga diri, misal dengan mengintervensi langsung pada manajemen rumah tangga anak, maka sang mertua sebenarnya tengah mengaduk-aduk rumah tangga anaknya sendiri.&lt;br /&gt;Seorang suami juga harus sadar bahwa ia pemimpin dalam rumah tangga. ALLOH SWT berfirman, "Laki-laki adalah pemimpin kaum wanita, karena ALLOH telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lainnya dan karena mereka telah membelanjakan sebagian harta mereka…" (Q.S. An-Nissa [4]: 34).&lt;br /&gt;Dan seorang pemimpin hanya akan jadi pemimpin jika ada yang dipimpin. Artinya, jangan merasa lebih dari yang dipimpin. Seperti halnya presiden tidak usah sombong kepada rakyatnya, karena kalau tidak ada rakyat lalu mengaku jadi presiden, bisa dianggap orang gila. Makanya, presiden jangan merendahkan rakyat, karena dengan adanya rakyat dia jadi presiden.&lt;br /&gt;Sama halnya dengan kasus orang yang menghina tukang jahit, padahal bajunya sendiri dijahit, "Hmm, tukang jahit itu pegawai rendahan". Coba kalau bajunya tidak dijahitkan oleh tukang jahit, tentu dia akan kerepotan menutup auratnya. Dia dihormati karena bajunya diselesaikan tukang jahit. Lain lagi dengan yang menghina tukang sepatu, "Ah, dia mah cuma tukang sepatu". Sambil dia kemana-mana bergaya memakai sepatu.&lt;br /&gt;Tidak layak seorang pemimpin merasa lebih dari yang dipimpin, karena status pemimpin itu ada jikalau ada yang dipimpin. Misalkan, istrinya bergelar master lulusan luar negeri sedangkan suaminya lulusan SMU, dalam hal kepemimpinan rumah tangga tetap tidak bisa jadi berbalik dengan istri menjadi pemimpin keluarga. Dalam kasus lain, misalkan, di kantornya istri jadi atasan, suami kebetulan stafnya, saat di rumah beda urusannya. Seorang suami tetaplah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, bagi para suami jangan sampai kehilangan kewajiban sebagai suami. Suami adalah tulang punggung keluarga, seumpama pilot bagi pesawat terbang, nakhoda bagi kapal laut, masinis bagi kereta api, sopir bagi angkutan kota, atau sais bagi sebuah delman. Demikianlah suami adalah seorang pemimpin bagi keluarganya. Sebagai seorang pemimpin harus berpikir bagaimana nih mengatur bahtera rumah tangga ini mampu berkelok-kelok dalam mengarungi badai gelombang agar bisa mendarat bersama semua awak kapal lain untuk menepi di pantai harapan, suatu tempat di akhirat nanti, yaitu surga.&lt;br /&gt;Karenanya seorang suami harus tahu ilmu bagaimana mengarungi badai, ombak, relung, dan pusaran air, supaya selamat tiba di pantai harapan. Tidak ada salahnya ketika akan menikah kita merenung sejenak, "Saya ini sudah punya kemampuan atau belum untuk menyelamatkan anak dan istri dalam mengarungi bahtera kehidupan sehingga bisa kembali ke pantai pulang nanti?!". Karena menikah bukan hanya masalah mampu cari uang, walau ini juga penting, tapi bukan salah satu yang terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang memeras keringat, tapi ternyata tidak shalat, sungguh sangat merugi. Ingatlah karena kalau sekedar cari uang, harap tahu saja bahwa garong juga tujuannya cuma cari uang, lalu apa bedanya dengan garong?! Hanya beda cara saja, tapi kalau cita-citanya sama, apa bedanya?&lt;br /&gt;Buat kita cari nafkah itu termasuk dalam proses mengendalikan bahtera. Tiada lain supaya makanan yang jadi keringat statusnya halal, supaya baju yang dipakai statusnya halal, atau agar kalau beli buku juga dari rijki yang statusnya halal. Hati-hatilah, walaupun di kantong terlihat banyak uang, tetap harus pintar-pintar mengendalikan penggunaannya, jangan sampai asal main comot. Seperti halnya ketika mancing ikan di tengah lautan, walaupun nampak banyak ikan, tetap harus hati-hati, siapa tahu yang nyangkut dipancing ikan hiu yang justru bisa mengunyah kita, atau nampak manis gemulai tapi ternyata ikan duyung.&lt;br /&gt;Ketika ijab kabul, seorang suami harusnya bertekad, "Saya harus mampu memimpin rumah tangga ini mengarungi episode hidup yang sebentar di dunia agar seluruh anggota awak kapal dan penumpang bisa selamat sampai tujuan akhir, yaitu surga". Bahkan jikalau dalam kapal ikut penumpang lain, misalkan ada pembantu, ponakan, atau yang lainnya, maka sebagai pemimpin tugasnya sama juga, yaitu harus membawa mereka ke tujuan akhir yang sama, yaitu surga.&lt;br /&gt;ALLOH Azza wa Jalla mengingatkan kita dalam sabdanya, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…" (Q.S. At Tahriim [66]:6).&lt;br /&gt;Kepada pembantu jangan hanya mampu nyuruh kerja saja, karena kalau saja dulu lahirnya ALLOH tukarkan, majikan lahir dari orang tua pembantu, dan pembantu lahir dari orang tua majikan, maka si majikan yang justru sekarang lagi ngepel. Pembantu adalah titipan ALLOH, kita harus mendidiknya dengan baik, kita sejahterakan lahir batinnya, kita tambah ilmunya, mudah-mudahan orang tuanya bantu-bantu di kita, anaknya bisa lebih tinggi pendidikannya, dan yang terpenting lagi lebih tinggi akhlaknya. &lt;br /&gt;Inilah pemimpin ideal, yaitu pemimpin yang bersungguh-sungguh mau memajukan setiap orang yang dipimpinnya. Siapapun orangnya didorong agar menjadi lebih maju. ***&lt;br /&gt;(K.H. Abdullah Gymnastiar)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116306091649712544?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116306091649712544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116306091649712544' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306091649712544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306091649712544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/11/suami-pemimpin-bagi-keluarga.html' title='Suami, Pemimpin Bagi Keluarga'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116306078452526497</id><published>2006-11-09T13:55:00.000+05:30</published><updated>2006-11-09T21:21:39.810+05:30</updated><title type='text'>SEBAIK-BAIK MANUSIA</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/jn12.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/jn12.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana dirinya punya nilai mamfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Khairunnas anfa’uhum linnas", "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;            Hadits ini seakan-akan mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah sejauh mana nilai mamfaat diri ini? Istilah Emha Ainun Nadjib-nya, tanyakanlah pada diri ini apakah kita ini manusia wajib, sunat, mubah, makruh, atau malah manusia haram?&lt;br /&gt;            Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai jikalau keberadannya sangat dirindukan, sangat bermamfat, perilakunya membuat hati orang di sekitarnya tercuri. Tanda-tanda yang nampak dari seorang manusia wajib, diantaranya dia seorang pemalu, jarang mengganggu orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku kesehariannya lebih banyak kebaikannya. Ucapannya senantiasa terpelihara, ia hemat betul kata-katanya, sehingga lebih banyak berbuat daripada berbicara. Sedikit kesalahannya, tidak suka mencampuri yang bukan urusannya, dan sangat nikmat kalau berbuat kebaikan. Hari-harinya tidak lepas dari menjaga silaturahmi, sikapnya penuh wibawa, penyabar, selalu berterima kasih, penyantun, lemah lembut, bisa menahan dan mengendalikan diri, serta penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;            Bukan kebiasaan bagi yang akhlaknya baik itu perilaku melaknat, memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap tergesa-gesa, dengki, bakhil, ataupun menghasut. Justru ia selalu berwajah cerah, ramah tamah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan marahnya pun karena Allah SWT, subhanallaah, demikian indah hidupnya.&lt;br /&gt;            Karenanya, siapapun di dekatnya pastilah akan tercuri hatinya. Kata-katanya akan senantiasa terngiang-ngiang. Keramahannya pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yang sedang membara. Jikalau saja orang yang berakhlak mulia ini tidak ada, maka siapapun akan merasa kehilangan, akan terasa ada sesuatu yang kosong di rongga qolbu ini. Orang yang wajib, adanya pasti penuh mamfaat. Begitulah kurang lebih perwujudan akhlak yang baik, dan ternyata ia hanya akan lahir dari semburat kepribadian yang baik pula.&lt;br /&gt;            Orang yang sunah, keberadaannya bermamfaat, tetapi kalau pun tidak ada tidak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum dari lubuk hati yang paling dalam. Karena hati akan tersentuh oleh hati lagi. Seperti halnya kalau kita berjumpa dengan orang yang berhati tulus, perilakunya benar-benar akan meresap masuk ke rongga qolbu siapapun.&lt;br /&gt;            Orang yang mubah, ada tidak adanya tidak berpengaruh. Di kantor kerja atau bolos sama saja. Seorang pemuda yang ketika ada di rumah keadaan menjadi berantakan, dan kalau tidak adapun tetap berantakan. Inilah pemuda yang mubah. Ada dan tiadanya tidak membawa mamfaat, tidak juga membawa mudharat.&lt;br /&gt;            Adapun orang yang makruh, keberadannya justru membawa mudharat. Kalau dia tidak ada, tidak berpengaruh. Artinya kalau dia datang ke suatu tempat maka orang merasa bosan atau tidak senang. Misalnya, ada seorang ayah sebelum pulang dari kantor suasana rumah sangat tenang, tetapi ketika klakson dibunyikan tanda sang ayah sudah datang, anak-anak malah lari ke tetangga, ibu cemas, dan pembantu pun sangat gelisah. Inilah seorang ayah yang keberadaannya menimbulkan masalah.&lt;br /&gt;            Lain lagi dengan orang bertipe haram, keberadaannya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Jika dia pergi ke kantor, perlengkapan kantor pada hilang, maka ketika orang ini dipecat semua karyawan yang ada malah mensyukurinya.&lt;br /&gt;            Masya Allah, tidak ada salahnya kita merenung sejenak, tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat mamfaat tidak dengan kehadiran kita? Adanya kita di masyarakat sebagai manusia apa, wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram? Kenapa tiap kita masuk ruangan teman-teman malah pada menjauhi, apakah karena perilaku sombong kita?&lt;br /&gt;            Kepada ibu-ibu, hendaknya tanyakan pada diri masing-masing, apakah anak-anak kita sudah merasa bangga punya ibu seperti kita? Punya mamfaat tidak kita ini? Bagi ayah cobalah mengukur diri, saya ini seorang ayah atau gladiator? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada para mubaligh, harus bertanya, benarkah kita menyampaikan kebenaran atau hanya mencari penghargaan dan popularitas saja?&lt;br /&gt;(Sumber : Tabloid MQ EDISI 01/TH.II/MEI 2001)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116306078452526497?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116306078452526497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116306078452526497' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306078452526497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306078452526497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/11/sebaik-baik-manusia.html' title='SEBAIK-BAIK MANUSIA'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116306070690424191</id><published>2006-11-09T13:53:00.000+05:30</published><updated>2006-11-09T21:21:00.953+05:30</updated><title type='text'>Rumah Tangga yang Menyenangkan</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/DSCN1304.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/DSCN1304.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Meminimalkan Potensi Konflik)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banyak orang yang menyangka bahwa pernikahan itu indah. Padahal sebetulnya? Indah ...sekali. Tak sedikit yang menyesal, kenapa tak dari dulu menikah.&lt;br /&gt;Sahabat, itu adalah secuplik ungkapan yang lazim terdengar tentang pernikahan. Namun jelas, tak segampang yang dibayangkan untuk membina sebuah keluarga. Membangun sebuah keluarga sakinah adalah suatu proses. Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam tanpa masalah. Namun lebih kepada adanya keterampilan untuk manajemen konflik.&lt;br /&gt;Ada tiga jenis manajemen konflik dalam rumah tangga, yaitu pencegahan terjadinya konflik, menghadapai tatkala konflik terlanjur berlangsung, dan apa yang harus dilakukan setelah konflik reda.&lt;br /&gt;Pada kesempatan pertama, insya Allah kta akan mengurai tentang bagaimana meminimalkan terjadinya konflik di dalam rumah tangga kia.&lt;br /&gt;1. Siap dengan hal yang tidak kita duga&lt;br /&gt;Pada dasarnya kita selalu siap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Mudah bagi kita bila yang terjadi cocok dengan harapan kita. Namun, bagaimanapun, setiap orang itu berbeda-beda. Tidak semuanya harus sama "gelombangnya" dengan kita. Maka yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri agar potensi konflik akibat perbedaan ini tidak merusak.&lt;br /&gt;Dalam rumah tangga, bisa jadi pasangan kita teryata tidak seideal yang kita impikan. Maka kita harus siap melihat ternyata dia tidak rapi, tidak secantik yang dibayangkan atau tidak segesit yang kita harapkan., misalnya. Kita harus berlapang dada sekali andai ternyata apa yang kita idamkan, tidak ada pada dirinya. Juga sebaliknya, apabila yang luar biasa kita benci. Ternyata isteri atau suami kita memiliki sikap tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Memperbanyak pesan Aku&lt;br /&gt;Tindak lanjut dan kesiapan kita menghadapi perbedaan yang ada, adalah memeperbanyak pesan aku. Sebab, umumnya makin orang lain menegetahui kita, makin siap dia menghadapi kita. Misalnya sebagai isteri kita terbiasa katakanlah mengorok ketika tidur. Maka agar suami dapat siap menghadapi hal ini, kita bisa mengatakan "Mas, orang bilang, kalau tidur saya itu suka ngorok,.... jadi Mas siap-siap saja. Sebab, sebetulnya, saya sendiri enggak niat ngorok." &lt;br /&gt;Lalu sebagai suami, misalnya kita menyatakan keinginan kita: "Saya kalau jam tiga suka bangun. Tolonglah bangunkan saya. Saya suka menyesal kalau tidak Tahajjud. Dan kalau sedang Tahajjud, saya tidak ingin ada suara yang mengganggu." &lt;br /&gt;Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi riak-riak masalah akaibat satu sama lain tidak memahami nilai-nilai yang dipakai oleh pasangan hidupnya. Sebab sangat mungkin orang membuat kesalahan akibat dia tidak tahu tata nilai kita. Yang dampaknya akan banyak muncul ketersinggungan-ketersinggungan. Maka di sinilah perlunya kita belajar memberitahukan. Memberitahukan apa yag kita inginkan. Inilah esensi dari pesan aku. &lt;br /&gt;Dengan demikian ini akan membuat peluang konflik tidak membesar. Karena kita telah mengkondisikan agar orang memahami kita. Sungguh tidak usah malu menyatakan harapan ataupun keberatan-keberatan kita. Sebab justru dengan keterbukaan seperti ini pasangan hidup kita dapat lebih mudah dalam menerima diri kita. Termasuk dalam hal keberadaan orang lain. &lt;br /&gt;Misalnya orang tua kita akan datang. Maka adalah suatu tindakan bijaksana apabila kita mengatakan kepada suami tentang mereka. Sebagai contoh, orang tua kita mempunyai sikap cukup cerewet, senang mengomentari ini itu. Maka katakan saja: "Pak... saya tidak bermaksud meremehkan. Namun begitulah adanya. Orang tua saya banyak bicara. Jangan terlalu difikirkan, itu memang sudah kebiasaan mereka. Juga dalam hal makanan, yang ikhlas saja ya Pak...kalau nanti mereka makannya pada lumayan banyak..." &lt;br /&gt;Sungguh sahabat, makin kita jujur maka akan semakin menentramkan perasaan masing-masing di antara kita. &lt;br /&gt;Alkisah, ada sebuah keluarga. Sering sekali terjadi pertengkaran. Akhirnya, suatu ketika si isteri bicara "Pak, maaf ya, keluarga kami memang bertabiat keras. Sehingga bagi kami kemarahan itu menjadi hal yang amat biasa." &lt;br /&gt;Lalu suaminya membalas "Sedangkan Papa lahir dari keluarga pendiam, dan jarang sekali ada pertempuran..." &lt;br /&gt;Jelas itu akan membuat keadaan berangsur lebih baik dibanding terus menerus bergelut dalam pertengkaran-pertengkaran yang semestinya tak terjadi. &lt;br /&gt;Jadi kita pun harus berani untuk mengumpulkan input-input tentang pasangan kita. Misalnya ternyata dia punya BB atau bau badan. Maka kita bisa menyarankan untuk meminum jamu, sekaligus memberitahukan bahwa kadar ketahanan kita terhadap bau-bauan rendah sekali. Sehingga ketika kita tiba-tiba memalingkan muka dari dia, isteri kita itu tidak tersinggung. Karena tata nilainya sudah disamakan. &lt;br /&gt;Tentunya, dengan saling keterbukaan seperti itu masalah akan menjadi lebih mudah dijernihkan dibanding masing-masing saling menutup diri. &lt;br /&gt;Ketertutupan, pada akhirnya akan membuat potensi masalah menjadi besar. Kita menjadi mengarang kesana kemari, membayangkan hal yang tidak tidak berkenaan dengan pasanagan hidup kita. Dongkol, marah, benci dan seterusnya. Padahal kalau saja didiskusikan, bisa jadi masalahnya menjadi sangat mudah diselesaikan. Dan potensi konflik pun menjadi minimal. &lt;br /&gt;3. Tentang aturan &lt;br /&gt;Kita harus memiliki aturan-aturan yang disepakati bersama. Karena kalau tak tahu aturan, bagaimana orang bisa nurut? Bagaimana kita bisa selaras? Jadi kita harus membuat aturan sekaligus...sosialisasikan! &lt;br /&gt;Misalnya isteri kita jarang mematikan kran setelah mengguanakan. Bisa jadi kita dongkol. Disisi lain, boleh jadi isteri malah tak merasa bersalah sama sekali. Sebab dia berasal dari desa. Dan di desa.. pancuran toh tak pernah ditutup. &lt;br /&gt;Begitu pula pada anak-anak. Kita harus mensosialisasikan peraturan ini. Tidak usah kaku. Buat saja apa yang bisa dilaksanakan oleh semua. Makin orang tahu peraturan, maka peluang berbuat salah makin minimal.&lt;br /&gt;K.H. Abdullah Gymnastiar &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116306070690424191?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116306070690424191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116306070690424191' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306070690424191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306070690424191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/11/rumah-tangga-yang-menyenangkan.html' title='Rumah Tangga yang Menyenangkan'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116306060071140565</id><published>2006-11-09T13:51:00.000+05:30</published><updated>2006-11-09T21:20:12.200+05:30</updated><title type='text'>PENYEBAB BOROS</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/DSCN1163.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/DSCN1163.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK ADA PERENCANAAN&lt;br /&gt;            Salah satu ciri zaman modern adalah segala sesuatu dibuat menjadi sangat mudah. Lihat saja televisi, kalau dulu selain ukurannya besar, memindahkan channel-nya pun butuh tenaga. Bandingkan dengan TV zaman sekarang yang sudah menggunakan remote control, yang hanya dengan sekali sentuh, channel sudah berpindah. Termasuk untuk menggerakkan TV-nya sekalipun. Juga AC, lampu, bahkan ada yang dengan suara pun sudah bisa menjadi sensor penggerak peralatan rumah tangga kita, luar biasa. Sungguh kemampuan akal manusia telah menjadikan kebutuhan hidup kita lebih mudah untuk dilakukan.&lt;br /&gt;            Tapi, kemudahan ini pun ada dampak negatifnya. Tiada lain karena segala kemudahan yang didukung dengan pengetahuan yang memadai serta sikap mental yang bermutu, ternyata dapat menjadi biang munculnya pemborosan. Ada seorang suami yang tercengang melihat rekening tagihan bulanannya yang membengkak luar biasa sesudah ia dan istrinya masing-masing memiliki kartu kredit dan menggunakan handphone. Tiada lain, karena sedemikian mudahnya menggunakan dua alat yang memang diperuntukkan sebagai pemberi kemudahan ini. Biasa tinggal menggesek dan memijit saja sampai-sampai waktu untuk mengadakan perhitungan biaya yang dikeluarkan pun terlewati.&lt;br /&gt;            Sangat berlainan halnya dengan orang yang menyimpan uangnya di tabungan, yang harus berproses dulu. Untuk mengambilnya, proses ini akan cukup menghambat keinginannya untuk mudah mengeluarkan uang. Harap dimaklumi, sesungguhnya tidak berarti kartu kredit dan handphone itu buruk, melainkan para pemiliknya harus memiliki mental dan keilmuan yang lebih tangguh agar apa yang dimilikinya tidak jadi bumerang, yang akan menjebak dan menyengsarakannya.&lt;br /&gt;            Salah satu yang dapat kita lakukan untuk menghindari perilaku boros ini adalah dengan membuat perencanaan keuangan. Subhanallaah, sebuah rumah tangga yang terbiasa mengadakan perencanaan, selain lebih hemat juga dapat mengadakan antisipasi terhadap kekurangan cash flow keuangan keluarga. Bahkan anak-anak pun sudah dapat dilatih sedari kecil dengan cara uang jajannya diberikan mingguan atau bahkan bulanan, sehingga sang anak sudah biasa membuat perencanaan pengeluarannya, dalam hal ini akan sangat membantu dalam program penghematan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;            Ada sebuah contoh menarik. Ibu Fulanah, sebut saja begitu, hampir setiap minggu selalu bertengkar dengan suaminya. Sebabnya adalah anggaran belanja yang tidak pernah cukup. Padahal menurut perhitungan kasar sang suaminya, dianggap sudah memadai. Sesudah diselidiki dengan seksama, ternyata ibu Fulanah ini memang tidak punya perencanaan anggaran belanja berimbang, sehingga tidak ada prioritas dalam pengeluaran uang dan tentu saja akibatnya banyak hal penting tak terbiayai sedangkan hal sekunder yang tak begitu penting malah dibeli.&lt;br /&gt;            Berlainan dengan ibu Siti, bukan nama sebenarnya, yang memiliki pengetahuan untuk mengadakan perencanaan pengeluaran dan pemasukan yang berimbang. Walaupun gaji suaminya pas-pasan dan bahkan cenderung kurang, tapi dengan perencanaan yang cermat dan terbuka kepada seluruh anggota keluarga sehingga setiap anggota keluarga memahami keadaan perekonomian keluarga yang sebenarnya. Akibatnya, selain dananya tepat guna, seluruh keluarga pun terbiasa juga berhemat. Selain itu, kekurangan dana juga bisa dideteksi lebih awal dan segera dicarikan solusinya bersama. Tentu saja hasil kerja sama setiap anggota keluarga ini membantu menyelesaikan masalah yang ada. Sungguh sangat belainan dengan ibu Fulanah dan suaminya tadi yang sibuk saling menyalahkan, padahal tentu saja tidak menyelesaikan masalah, justru malah menambah masalah.&lt;br /&gt;            Kalau tak percaya, untuk hal yang sederhana saja yaitu jikalau kita pergi berbelanja ke pasar atau toko serba ada namun tidak punya perencanaan yang jelas, maka akibatnya bisa secara sembrono membeli hal yang tidak prioritas. Disamping itu kurangnya perencanaan menyebabkan pula peluang kegagalan semakin terbuka lebar, berarti pemborosan dalam segala bidang.&lt;br /&gt;            Maka jikalau ingin menjadi orang yang hemat, selalu adakan perencanaan yang matang dalam segala hal. Semakin mendetail/rinci maka semakin besar pula peluang untuk sukses dalam penghematan ini. Termasuk untuk hal-hal yang sederhana atau yang biasa dianggap sepele. Biasakanlah sebelum belanja tulis dengan baik dan jelas barang yang harus dibeli dan anggaran yang harus disediakan, begitu pula dalam belanja bulanan, rumah tangga yang terbiasa mengadakan perencanaan, selain lebih hemat juga bisa mengadakan antisipasi terhadap kekurangan biaya belanja, bahkan anak-anak pun sudah bisa dilatih mulai dari kecil dengan cara uang jajannya bisa diberikan mingguan atau bahkan bulanan, sehingga sang anak sudah biasa membuat perencanaan pengeluarannya, dan hal ini akan sangat membantu dalam hal efisiensi.&lt;br /&gt;            Hanya saja harus juga dianggarkan dengan jelas biaya sedekah sebagai investasi penting untuk penolak bala dan bencana, pengundang rezeki yang lebih berkah. Jangan sampai keinginan hemat menjadi kekikiran dalam kebaikan. Rasulullah dalam hal ini bersabda, "Orang yang kikir akan jauh dari Allah dan jauh dari manusia" (HR Thabrani).&lt;br /&gt;            Allah SWT pun menjelaskan dalam firman-Nya, "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan, jika kamu tidak menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" (QS. Ali Imran [3] : 92). Dalam ayat lain, "Dan barangsiapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS. Ath Taghabun [54] : 16).&lt;br /&gt;            Nampaklah bahwa perencanan finansial yang berdampak pada perilaku hemat, ternyata bukan berarti harus kikir.***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KURANG PERAWATAN&lt;br /&gt;            Aini sekali lagi harus pergi ke dokter gigi untuk memeriksakan giginya yang sering sakit. Padahal dokter gigi yang praktek di kampungnya cuma satu-satunya dan berjarak cukup jauh hingga untuk mendapatkan perawatan dokter tersebut ia harus meluangkan waktu lebih awal dan tetap antri berlama-lama bersama-sama dengan pasien lain. Aini sebetulnya tidak perlu repot-repot pergi ke dokter gigi seandainya ia rajin merawat kesehatan giginya. Perawatan yang ringan dengan kebiasaan menjaga kebersihan tentu lebih menguntungkannya. Ia tidak perlu membuat jadwal khusus untuk pergi ke dokter gigi yang selain menyita waktu dan tenaga, juga menguras keuangannya untuk sekedar ongkos naik angkot dan membeli obat.&lt;br /&gt;            Silahkan bayangkan sendiri apa yang terjadi andaikata kita tidak merawat gigi kita selama sebulan saja, jangan digosok, biarkan saja! Resiko apa kira-kira yang akan kita pikul (keuntungan yang diperoleh adalah hemat odol, hemat waktu, dan hemat tenaga).&lt;br /&gt;            (Maaf) Gigi menjadi kuning menebal membuat mual siapapun yang melihatnya, aromanya benar-benar memusingkan siapapun yang menghirupnya tentu saja termasuk yang bersangkutan, penyakit mulut serba kumat bisa jadi sariawan, infeksi mulut, termasuk sakit gigi (seperti yang kita maklumi sakit gigi adalah sakit yang paling dramatis, selain sakitnya hampir tak tertahankan, jarang ada yang menengok apalagi mengirim makanan bahkan terkadang jadi bahan tertawaan), hubungan dengan sesama akan kacau berantakan, begitupun hubungan bisnis/kerja, sekali lagi silahkan kalkulasikan sendiri kerugian dari segala sisi terhadap akibat dari kurangnya perawatan.&lt;br /&gt;            Hal ini berlaku terhadap apapun yang harus dirawat, barang-barang rumah tangga, elektronik, kendaraan, apapun termasuk tubuh kita sendiri, kita akan menanggung resiko pengeluaran yang jauh lebih besar dibanding biaya perawatan berkala yang dilakukan.&lt;br /&gt;            Pernah kami melihat sebuah mobil Mercy tahun 48, yang masih sangat mulus, karena pemiliknya begitu disiplin merawatnya dengan seksama, baik kondisi bodinya maupun mesinnya, bahkan sampai komponen detail interiornya sekalipun, karena dengan teratur dibersihkan secara apik dan benar, begitu pun penggantian komponen atau pelumas sesuai dengan aturan ausnya, dianggarkan secara khusus, dan hasilnya selain mobil itu awet dan masih sangat nyaman dipakai juga punya nilai jual yang jauh lebih tinggi.&lt;br /&gt;            Mahasuci Allah SWT yang menjanjikan "La insyakartum la adzii dannakum wa la in kafartum inna adzaabi la syadiid" (QS. Ibraahim [14] : 7) yang artinya "Barangsiapa yang bersyukur atas nikmat yang ada niscaya Kutambah nikmat-Ku padamu, dan barangsiapa yang tiada tahu bersyukur niscaya adzab Allah sangat pedih."&lt;br /&gt;            Memelihara nikmat yang Allah titipkan/karuniakan kepada kita sesungguhnya termasuk amal shaleh yang utama dan dikategorikan ahli syukur yang pasti mendapat balasan nikmat lain yang lebih baik, dan sebaliknya orang yang tak mau merawat nikmat ini termasuk orang yang kufur nikmat yang akan memikul derita kerugian lahir batin, naudzubillaah.&lt;br /&gt;Sebetulnya anggaran untuk merawat, tidak boleh disebut biaya perawatan, melainkan investasi/modal, seperti halnya membeli sikat gigi dan pastanya bukan biaya melainkan modal untuk menikmati gigi yang sehat, bisa makan dengan nikmat dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;            Oleh karena itu, marilah kita songsong nikmat yang melimpah yang Allah janjikan dengan mensyukuri nikmat yang ada yaitu diantaranya dengan merawat, memelihara dengan baik, teratur dan benar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DIPERBUDAK NAFSU&lt;br /&gt;            Sesungguhnya pemboros sejati adalah orang-orang yang memang pecinta duniawi ini, yang mengutamakan topeng ingin dipuji dan dihormati orang lain, yang bersikukuh menjaga gengsi, yang ingin serba enak dengan kemewahan, yang larut sebagai korban mode atau korban jaman, yang pada ujungnya penyebabnya adalah kurang iman akibat kurang pengetahuan tentang hakekat hidup mulia yang sebenarnya.&lt;br /&gt;            Memang menyedihkan kehidupan yang selalu diukur dengan ukuran materi dengan badai informasi lewat media cetak maupun elektronik lewat film, sinetron, lagu, iklan, dan lain-lain, mempertontonkan kehidupan mewah, glamour, membuat banyak orang yang hidup tidak realistis seakan jauh lebih besar pasak daripada tiang, dan semua ini juga menjadi biang keresahan dan kesengsaraan batin juga menjadi biang terjadinya tindakan ketidakjujuran/kejahatan, karena untuk mendapatkan obsesinya tersebut akan menghalalkan segala cara.&lt;br /&gt;            Tukang jaga gengsi, kasihan benar orang yang sangat menjaga gengsi takut tertinggal oleh orang lain, dia akan pontang-panting untuk memiliki sesuatu agar gengsinya dianggap tetap terjaga, walaupun harus pinjam sana-pinjam sini tentu saja barang yang dimilikinya tak akan membahagiakannya karena taruhan untuk memilikinya sesungguhnya diluar kemampuannya.&lt;br /&gt;            Korban mode ini pun selain pemboros juga menderita, karena selalu ingin tampil up to date bermode sesuai dengan jaman, tentu akan repot karena mode terus menerus berubah pasti akan sangat menguras tenaga, waktu, dan biaya, dan yang paling meyedihkan paling sering seseorang merasa keren sesuai dengan mode padahal yang melihatnya menjadi sangat geli bahkan mengasihani, karena selain seringkali mode itu tak sesuai/tak pantas, orang lain juga sudah tahu modal yang sebenarnya.&lt;br /&gt;            Si Sombong, kalau si Sombong tak pernah tahan melihat orang lain melebihi keadaannya, sehingga yang terus ada dalam benak pikirannya adalah bagaimana selalu kelihatan lebih dari orang lain dalam hal apapun, makanya dia begitu menderita melihat kesuksesan, kekayaan, dan kemajuan orang lain, maka akan berjuang mati-matian dengan cara apapun agar selalu tampak lebih bagus, lebih moderen, lebih kaya, lebih elit, dia sudah tak perhitungkan lagi biaya yang keluar dan dari mana asalnya yang penting lebih dari orang lain.&lt;br /&gt;            Si Riya, alias tukang pamer, kalau si Riya ini persis mirip etalase sibuk ingin memiliki sesuatu yang diharapkan membuat dirinya diketahui kekayaanya, statusnya, dan lain sebagainya, tentu saja ia akan berusaha pamer pakai barang luar negeri, ekslusif, lain dari yang lain, yaa sebetulnya mirip satu sama lain, fokus dari pikirannya adalah bagaimana supaya dinilai hebat oleh orang lain setidaknya tidak diremehkan.&lt;br /&gt;            Dalam beberapa hal menjaga kemuliaan diri ini adalah kebaikan, tapi kalau sampai menyiksa diri, melampaui batas kemmpuan apalagi sampai melanggar hak-hak orang lain termasuk yang diharapkan, maka jelaslah kerugian dunia akhiratnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;CEROBOH ATAU KURANG PERHITUNGAN (LALAI)&lt;br /&gt;            Kawan karibnya tergesa-gesa adalah ceroboh, tidak hati-hati, atau tidak berperhitungan cermat. Boleh jadi dia sudah punya perencanaan matang lalu menahan diri dari tergesa-gesa tapi belum juga luput dari kerugian kalau dia masih bertindak ceroboh. Skala kerugian akibat ceroboh ini sangat macam-macam mulai dari yang sederhana sampai bencana masal lahir batin melibatkan orang banyak.&lt;br /&gt;            Kisah kawan yang baru pulang dari Timur Tengah, dengan penuh keceriaan dan bangga memperlihatkan oleh-oleh yang katanya barang elektronik langka dan tidak ada di Indonesia. Sudah sangat terbayang dibenaknya selama perjalanan untuk mempergunakan alat canggih dan mahal ini, maka sesampainya di rumah sebelum melakukan apapun segera saja dibuka bungkusnya untuk dioperasikan secepatnya. Dengan diiringi uraian panjang lebar tentang keutamaan alat ini maka segeralah kabel listriknya dipasang. Tunggu punya tunggu kenapa tidak jalan seperti semestinya, bahkan beberapa saat kemudian tercium bau khusus, ya bau khusus kabel terbakar dan benar saja asap pun segera menghiasi alat baru tersebut. Walhasil selain kaget, sedih, kecewa. Tentu saja sangat rugi uang, waktu, dan tenaga mengangkut dari jauh ribuan kilo meter, hanya dalam bilangan detik saja menjadi sampah tak berguna karena kecerobohan lupa merubah voltase listriknya.&lt;br /&gt;            Ada kisah yang lebih dramatis lagi, semoga tidak ada orang yang mengulangi kecerobohan ini, yaitu ketika seorang ayah yang tentu sangat sayang kepada keluarganya, harus mengantar istri dan anaknya berobat ke dokter, mampir di sebuah apotik untuk membeli obat. Ketika keluar dari mobil, segera saja lari masuk ke dalam apotik, tiba-tiba terdengar jeritan dan suara benturan yang keras lalu suara benda besar terjun ke sungai, apakah yang terjadi? Ternyata sang suami ini begitu ceroboh memarkir mobilnya di pinggir jalan yang menurun dan tidak memasang rem tangan ataupun memasukkan gigi persenelingnya, sehingga sepeninggalnya mobil ini meluncur dengan sendirinya tak terkendali lalu membentur dinding jembatan dan akhirnya jatuh ke sungai, sungguh tragis. Ternyata hidup dengan mengandalkan kasih sayang saja tidak cukup, melainkan juga harus dengan kehati-hatian. Jauh dari kecerobohan.&lt;br /&gt;            Belum lagi kisah seorang ibu yang mengantuk ketika memberi obat kepada anaknya, yang ternyata harus rela kehilangan buah hatinya, karena ceroboh salah memberikan obat.&lt;br /&gt;            Begitu banyak kisah kecerobohan dari sisi kehidupan manapun yang ujungnya adalah bencana yang sangat merugikan dan memilukan. Oleh karena itu, sebagai langkah awal kita harus selalu berupaya memahami segala sesuatu dengan baik. Luangkanlah waktu untuk mempelajari prosedur dan aturan-aturan penggunaan, cara pakai yang benar, dosis atau takaran yang pasti, bacalah buku/lembaran panduannya terlebih dahulu, dan pahami dengan seksama berikut segala larangan dan resikonya.&lt;br /&gt;            Lalu tahap selanjutnya berusahalah untuk disiplin dan tertib melaksanakan sesuai aturan. Ikutilah tahapan-tahapan dan batasan-batasan yang dianjurkan/diharuskan dengan seksama, dan bersabarlah untuk mengikutinya, jangan sok tahu dan menganggap enteng.&lt;br /&gt;            Selalu melakukan sesuatu dengan kesungguhan, kehati-hatian dan konsentrasi yang baik agar tak terjadi kecerobohan yang merugikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MALAS&lt;br /&gt;            Berbicara tentang kemalasan, maka bukan berbicara tentang kurang pengetahuan. Dia tahu tapi tetap tidak melakukan hal yang semestinya dilakukan, ya karena enggan atau malas itulah, dan kerugian yang timbul pun bukan main-main bisa jadi sampai hilang nyawa. Para pengangguran yang malas mencari nafkah, atau malas bekerja keras, benar-benar makhluk beban biang pemborosan karena walaupun menganggur dia tetap harus menguras dana untuk makan, minum, tempat berteduh, mandi, listrik, air ledeng, dan lain sebagainya..&lt;br /&gt;            Padahal kalau dia mau saja keluar dari rumahnya dengan niat dan tekad untuk bekerja keras mencari nafkah niscaya akan seperti burung yang keluar dari sangkarnya dan kembali membawa cacing untuk makan keluarganya, jadi bukan karena tidak ada jatah rizkinya melainkan malas menjemput jatahnya.&lt;br /&gt;            Ada seorang pemuda, malah mahasiswa, mempunyai motor yang bagus tapi dia malas sekali untuk memarkir kendaraannya di tempat semestinya, merasa lebih mudah menyimpan di depan pintu kostnya dan dia pun malas untuk repot-repot menggunakan rantai pengaman. Di ujung kisah ini sudah bisa ditebak, kemalasan seperti ini adalah memberi kemudahan bagi para maling untuk melakukan aksinya. Malas mengeluarkan waktu dan tenaga yang tak seberapa dan hasilnya lenyaplah berjuta-juta hasil tabungan orang tuanya plus masih harus nyicil sisanya.&lt;br /&gt;            Kisah lainnya tentang safety belt atau sabuk pengaman. Karena merasa sudah terbiasa tak menggunakan dan juga malas memakainya, maka Pak Fulan sang boss sebagai pemilik mobil mewah harus memiklul derita yang menyedihkan, yaitu tatkala ada mobil orang lain yang hilang kendali sehingga menabrak mobilnya tanpa bisa dihindarkan. Akibatnya, selain harus berbaring di rumah sakit berbulan-bulan karena geger otak dan patah tulang tangan serta kakinya yang tentu mengeluarkan biaya mahal, juga tak dapat bekerja dengan baik yang menghilangkan kesempatan bisnisnya, serta silahkan hitung jenis kerugian lainnya. Hal yang berbeda tidak dialami sang supir yang walaupun pendidikannya hanya Sekolah Dasar tapi selalu berusaha tertib, disiplin, dan tidak mengenal malas untuk menyempurnakan kewajibannya. Sang supir selamat karena menggunakan sabuk pengaman dengan baik dan juga tidak pernah malas untuk berdo’a meminta perlindungan kepada Allah yang menguasai segala kejadian. Tak pernah malas untuk berdzikir sepanjang jalan, juga tak pernah malas untuk bersedekah, bukankah sedekah adalah penolak bala.&lt;br /&gt;            Silahkan renungkan sendiri perkara kemalasan lainnya. Misalnya malas mandi, maka bersiaplah untuk berpanu ria. Malas mengerjakan tugas dan belajar maka bersiaplah untuk tidak naik kelas/tingkat. Malas ngantor maka bersiaplah untuk dirumahkan, malas beribadah maka bersiaplah untuk mendapatkan penderitaan dunia akhirat (naudzubillaah), bukankah tugas kita ini untuk beribadah?! Percayalah tidak ada jalan kesuksesan bagi pemalas yang malang. Maka, marilah kita lawan dengan segenap tenaga, dobrak, bagai buldozer menggempur penghalang. Yakinlah bahwa kita sangat sanggup melawan kemalasan yang merugikan dan menghinakan itu dengan mudah asalkan mau memulainya dengan DO IT NOW. Lakukan sekarang juga apa yang harus kau lakukan. Selamat menikmati hasilnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KURANG KENDALI&lt;br /&gt;            Ada sebuah rumus sederhana untuk sebuah kebangkrutan, pada umumnya jatuhnya sebuah usaha itu tidak langsung sekaligus melainkan pelan menjalar dan akhirnya menjadi parah tak tertahankan, dan penyebab semua ini adalah lemahnya system pengontrolan dari usaha tersebut.&lt;br /&gt;            Ya bagi siapapun yang mau pergi menggunakan kendaraan dan tidak melakukan pengontrolan terhadap jumlah bahan bakar yang ada maka bersiaplah stress sepanjang jalan dan siap pula untuk berkuah peluh mendorongnya, apalagi perjalanan keluar kota dan tidak punya sistem pengontrolan terhadap air radiator, oli, ban cadangan dan peralatannya, kotak P3K, atau hal lainnya maka bersiaplah untuk memikul biaya besar akibat kelalaian pengontrolan ini.&lt;br /&gt;            Orang tua yang tidak punya sistem kontrol yang baik terhadap perilaku dan pergaulan anak-anaknya, tampaknya terlalu banyak contoh di sekitar kita tentang aib dan bencana yang harus dipikul kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;            Begitu pun organisasi yang lemah sistem kontrolnya baik ke atas maupun ke bawah niscaya organisasi ini akan menjadi organisasi babrok, tak bermutu, tak akan berprestasi dengan benar dan baik, dan suatu saat pasti ambruk karena memang demikianlah sunnatullah-nya. Termasuk sakitnya bangsa ini jelas sekali menjadi pelajaran bagi kita semua, korupsi dimana-mana merajalela disegala lapisan, sungguh menyedihkan memang bangsa kita punya moral yang sangat buruk begini, pelajaran yang dapat diambil memang sistem pengontrolan dari rakyat ke penguasa hampir tiada, aparat yang harus juga ternyata tak jujur maka ya jadilah semrawut begini.&lt;br /&gt;            Oleh karena itu marilah kita mulai dari diri kita, keluarga kita untuk berbudaya membangun system pengontrolan yang baik, benar dan tepat, awali pengetahuan tentang resiko yang harus dipikul yang dapat dicegah dengan cek dan ricek yang baik, lalu biasakan membuat check list, atau daftar pengecekan yang jelas dan detail, dan mulailah membiasakan untuk tidak melakukan apapun sebelum mengadakan check dan ricek tadi, Insya Allah semoga Dia mencegah segala kemudharatan dengan sikap kita yang penuh kehati-hatian ini, sehingga kita lebih dapat menikmati hidup ini dengan lebih baik.&lt;br /&gt;SEGALANYA MUDAH&lt;br /&gt;            Salah satu ciri dari zaman modern ini adalah segala sesuatunya dibuat menjadi sangat mudah, lihat saja TV, kalau dulu selain ukurannya besar memindahkan chanelnya juga butuh tenaga, bandingkan dengan TV saat ini, sudah menggunakan remote yang hanya disentuh saja termasuk menggerakkan TV-nya sekalipun, juga AC, lampu, bahkan suara kita pun sudah bisa jadi sensor penggerak peralatan, luar biasa.&lt;br /&gt;            Tapi ada dampak negatifnya segala kemudahan yang tak didukung dengan pengetahuan yang memadai serta sikap mental yang bermutu, karena ternyata biang pemborosan pun bisa lahir dari kemudahan ini.&lt;br /&gt;            Ada seorang suami yang tercengang melihat rekening tagihan bulanannya yang membengkak luar biasa sesudah beliau dan istrinya masing-masing memiliki kartu kredit dan menggunakan handphone, karena demikian mudahnya menggunakannya tinggal menggesek dan memijit saja sampai-sampai waktu untuk mengadakan perhitungan pun terlewati, tentu sangat berlainan halnya dengan orang yang menyimpan uang di tabungan yang harus berproses untuk mengambilnya, proses ini akan cukup menghambat keinginannya untuk mudah mengeluarkan uang, harap dimaklumi sesungguhnya tidak berarti kartu kredit dan handphone itu buruk melainkan para pemiliknya harus memiliki mental dan keilmuan yang lebih tangguh agar apa yang dimilikinya tidak jadi bumerang, yang akan menjebak dan menyengsarakannya.&lt;br /&gt;            Sistem belanja dengan mencicil juga harus dicermati dengan seksama, kemudahan yang diberikan dengan kiriman langsung ke rumah dan dicicil bulanan, tentu saja ada mamfaatnya tapi tidak jarang menjadi ajang pemborosan karena digunakan untuk memiliki sesuatu yang sebetulnya tidak/belum begitu diperlukan, sedangkan cicilan-cicilan yang beraneka ragam akan sangat terasa ketika sudah mulai mencicilnya dan lebih terasa lagi jikalau cicilannya jangka panjang sedang sang barang tak begitu tinggi nilai mamfaatnya atau bahkan sudah rusak.&lt;br /&gt;            Termasuk berbelanja di superstore, yang sangat serba ada, daya rangsang untuk membeli akan timbul dengan kemudahan melihat barang-barang tersebut, yang sebetulnya jikalau mau jujur tanpa barang tersebut pun tak akan berpengaruh bagi keadaan rumah tangga, sungguh harus sangat berhati-hati selain harus direncanakan dengan baik apa yang akan dibeli juga harus dibatasi membawa uangnya agar tak kebobolan, berbelanja hanya karena tergiur dengan kemudahan melihat dan mendapatkannya.&lt;br /&gt;(Sumber : Koran Kecil MQ EDISI 12, 13, 14, 15/TH.I/2001)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116306060071140565?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116306060071140565/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116306060071140565' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306060071140565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306060071140565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/11/penyebab-boros.html' title='PENYEBAB BOROS'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116306047024098480</id><published>2006-11-09T13:48:00.000+05:30</published><updated>2006-11-09T21:19:25.870+05:30</updated><title type='text'>Nikmati Proses</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/DSCN1382.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/DSCN1382.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu ALLOH yang menetapkan, tapi bagi kita punya kewajiban untuk menikmati dua perkara yang dalam aktivitas sehari-hari harus kita jaga, yaitu selalu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah ALLOH SWT.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya, sebetulnya bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka, karena menang-kalah itu akan selalu dipergilirkan kepada siapapun. Tapi yang paling penting baginya adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena ALLOH dan selama berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu seperti ini, sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jualan dalam rangka mencari nafkah untuk keluarga, maka masalah yang terpenting bagi kita bukanlah uang dari jualan itu, karena uang itu ada jalurnya, ada rizkinya dari ALLOH dan semua pasti mendapatkannya. Karena kalau kita mengukur kesuksesan itu dari untung yang didapat, maka akan gampang sekali bagi ALLOH untuk memusnahkan untung yang didapat hanya dalam waktu sekejap. Dibuat musibah menimpanya, dikenai bencana, hingga akhirnya semua untung yang dicari berpuluh-puluh tahun bisa sirna seketika. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Walhasil yang terpenting dari bisnis dan ikhtiar yang dilakukan adalah prosesnya. Misal, bagaimana selama berjualan itu kita selalu menjaga niat agar tidak pernah ada satu miligram pun hak orang lain yang terambil oleh kita, bagaimana ketika berjualan itu kita tampil penuh keramahan dan penuh kemuliaan akhlak, bagaimana ketika sedang bisnis benar-benar dijaga kejujuran kita, tepat waktu, janji-janji kita penuhi. &lt;br /&gt;Dan keuntungan bagi kita ketika sedang berproses mencari nafkah adalah dengan sangat menjaga nilai-nilai perilaku kita. Perkara uang sebenarya tidak usah terlalu dipikirkan, karena ALLOH Mahatahu kebutuhan kita lebih tahu dari kita sendiri. Kita sama sekali tidak akan terangkat oleh keuntungan yang kita dapatkan, tapi kita akan terangkat oleh proses mulia yang kita jalani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perlu dicamkan baik-baik bagi siap pun yang sedang bisnis bahwa yang termahal dari kita adalah nilai-nilai yang selalu kita jaga dalam proses. Termasuk ketika kuliah bagi para pelajar, kalau kuliah hanya menikmati hasil ataupun hanya ingin gelar, bagaimana kalau meninggal sebelum diwisuda? Apalagi kita tidak tahu kapan akan meninggal. Karenanya yang paling penting dari perkuliahan, tanya dulu pada diri, mau apa dengan kuliah ini? Kalau hanya untuk mencari isi perut, kata Imam Ali, "Orang yang pikirannya hanya pada isi perut, maka derajat dia tidak akan jauh beda dengan yang keluar dari perutnya". Kalau hanya ingin cari uang, hanya tok uang, maka asal tahu saja penjahat juga pikirannya hanya uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita kuliah adalah suatu ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup kita meningkat. Kita menuntut ilmu supaya tambah luas ilmu hingga akhirnya hidup kita bisa lebih meningkat manfaatnya. Kita tingkatkan kemampuan salah satu tujuannya adalah agar dapat meningkatkan kemampuan orang lain. Kita cari nafkah sebanyak mungkin supaya bisa mensejahterakan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mencari rizki ada dua perkara yang perlu selalu kita jaga, ketika sedang mencari kita sangat jaga nilai-nilainya, dan ketika dapat kita distribusikan sekuat-kuatnya. Inilah yang sangat penting. Dalam perkuliahan, niat kita mau apa nih? Kalau mau sekolah, mau kuliah, mau kursus, selalu tanyakan mau apa nih? Karena belum tentu kita masih hidup ketika diwisuda, karena belum tentu kita masih hidup ketika kursus selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Sahabat. Kalau kita selama kuliah, selama sekolah, selama kursus kita jaga sekuat-kuatnya mutu kehormatan, nilai kejujuran, etika, dan tidak mau nyontek lalu kita meninggal sebelum diwisuda? Tidak ada masalah, karena apa yang kita lakukan sudah jadi amal kebaikan. Karenanya jangan terlalu terpukau dengan hasil. &lt;br /&gt;Saat melamar seseorang, kita harus siap menerima kenyataan bahwa yang dilamar itu belum tentu jodoh kita. Persoalan kita sudah datang ke calon mertua, sudah bicara baik-baik, sudah menentukan tanggal, tiba-tiba menjelang pernikahan ternyata ia mengundurkan diri atau akan menikah dengan yang lain. Sakit hati sih wajar dan manusiawi, tapi ingat bahwa kita tidak pernah rugi kalau niatnya sudah baik, caranya sudah benar, kalaupun tidak jadi nikah dengan dia. Siapa tahu ALLOH telah menyiapkan kandidat lain yang lebih cocok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau sudah daftar mau pergi haji, sudah dipotret, sudah manasik, dan sudah siap untuk berangkat, tiba-tiba kita menderita sakit sehingga batal untuk berangkat. Apakah ini suatu kerugian? Belum tentu! Siapa tahu ini merupakan nikmat dan pertolongan dari ALLOH, karena kalau berangkat haji belum tentu mabrur, mungkin ALLOH tahu kapasitas keimanan dan kapasitas keilmuan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, sekali lagi jangan terpukau oleh hasil, karena hasil yang bagus menurut kita belum tentu bagus menurut perhitungan ALLOH. Kalau misalnya kualifikasi mental kita hanya uang 50 juta yang mampu kita kelola. Suatu saat ALLOH memberikan untung satu milyar, nah untung ini justru bisa jadi musibah buat kita. Karena setiap datangnya rizki akan efektif kalau iman kitanya bagus dan kalau ilmu kitanya bagus. Kalau tidak, datangnya uang, datangnya gelar, datangnya pangkat, datangnya kedudukan, yang tidak dibarengi kualitas pribadi kita yang bermutu sama dengan datangnya musibah. Ada orang yang hina gara-gara dia punya kedudukan, karena kedudukannya tidak dibarengi dengan kemampuan mental yang bagus, jadi petantang-petenteng, jadi sombong, jadi sok tahu, maka dia jadi nista dan hina karena kedudukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang terjerumus, bergelimang maksiat gara-gara dapat untung. Hal ini karena ketika belum dapat untung akan susah ke tempat maksiat karena uangnya juga tidak ada, tapi ketika punya untung sehingga uang melimpah-ruah tiba-tiba dia begitu mudahnya mengakses tempat-tempat maksiat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Sahabat. Selalulah kita nikmati proses. Seperti saat seorang ibu membuat kue lebaran, ternyata kue lebaran yang hasilnya begitu enak itu telah melewati proses yang begitu panjang dan lama. Mulai dari mencari bahan-bahannya, memilah-milahnya, menyediakan peralatan yang pas, hingga memadukannya dengan takaran yang tepat, dan sampai menungguinya di open. Dan lihatlah ketika sudah jadi kue, baru dihidangkan beberapa menit saja, sudah habis. Apalagi biasanya tidak dimakan sendirian oleh yang membuatnya. Bayangkan kalau orang membuat kue tadi tidak menikmati proses membuatnya, dia akan rugi karena dapat capeknya saja, karena hasil proses membuat kuenya pun habis dengan seketika oleh orang lain. Artinya, ternyata yang kita nikmati itu bukan sekedar hasil, tapi proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula ketika ibu-ibu punya anak, lihatlah prosesnya. Hamilnya sembilan bulan, sungguh begitu berat, tidur susah, berbaring sulit, berdiri berat, jalan juga limbung, masya ALLOH. Kemudian saat melahirkannya pun berat dan sakitnya juga setengah mati. Padahal setelah si anak lahir belum tentu balas budi. Sudah perjuangan sekuat tenaga melahirkan, sewaktu kecil ngencingin, ngeberakin, sekolah ditungguin, cengengnya luar biasa, di SD tidak mau belajar (bahkan yang belajar, yang mengerjakan PR justru malah ibunya) dan si anak malah jajan saja, saat masuk SMP mulai kumincir, masuk SMU mulai coba-coba jatuh cinta. Bayangkanlah kalau semua proses mendidik dan mengurus anak itu tidak pakai keikhlasan, maka akan sangat tidak sebanding antara balas budi anak dengan pengorbanan ibu bapaknya. Bayangkan pula kalau menunggu anaknya berhasil, sedangkan prosesnya sudah capek setengah mati seperti itu, tiba-tiba anak meninggal, naudzhubillah, apa yang kita dapatkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, bagi para ibu, nikmatilah proses hamil sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mengurus anak, pusingnya, ngadat-nya, dan rewelnya anak sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mendidik anak, menyekolahkan anak, dengan penuh jerih payah dan tetesan keringat sebagai ladang amal. Jangan pikirkan apakah anak mau balas budi atau tidak, sebab kalau kita ikhlas menjalani proses ini, insya ALLOH tidak akan pernah rugi. Karena memang rizki kita bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang dengan ikhlas dapat kita lakukan. ***&lt;br /&gt;(K.H. Abdullah Gymnastiar)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116306047024098480?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116306047024098480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116306047024098480' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306047024098480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306047024098480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/11/nikmati-proses.html' title='Nikmati Proses'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116306005775681795</id><published>2006-11-09T13:43:00.000+05:30</published><updated>2006-11-09T21:18:25.203+05:30</updated><title type='text'>Keluarga Kunci Kesuksesan</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/DSCN1339.0.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/DSCN1339.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita dengar orang-orang yang membangun&lt;br /&gt;karir bertahun-tahun akhirnya terpuruk oleh kelakuan keluarganya. Ada yang dimuliakan di kantornya tapi dilumuri aib oleh anak-anaknya sendiri, ada yang cemerlang karirnya di perusahaan tapi akhirnya pudar oleh perilaku istrinya dan anaknya. Ada juga yang populer di kalangan masyarakat tetapi tidak populer di hadapan keluarganya. Ada yang disegani dan dihormati di lingkungannya tapi oleh anak istrinya sendiri malah dicaci, sehingga kita butuh sekali keseriusan untuk menata strategi yang tepat, guna meraih kesuksesan yang benar-benar hakiki. Jangan sampai kesuksesan kita semu. Merasa sukses padahal gagal, merasa mulia padahal hina, merasa terpuji padahal buruk, merasa cerdas padahal bodoh, ini tertipu!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Penyebab kegagalan seseorang diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·Karena dia tidak pernah punya waktu yang memadai&lt;br /&gt;untuk mengoreksi dirinya. Sebagian orang terlalu sibuk dengan kantor, urusan luar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh. Karena orang tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·Sebagian orang hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, jikalau kita ingin sukses, mutlak bagi kita untuk sangat serius membangun keluarga sebagai basis (base), Kita harus jadikan keluarga kita menjadi basis ketentraman jiwa. Bapak pulang kantor begitu lelahnya harus rindu rumahnya menjadi oase ketenangan. Anak pulang dari sekolah harus merindukan suasana aman di rumah. Istri demikian juga. Jadikan rumah kita menjadi oase ketenangan, ketentraman, kenyamanan sehingga bapak, ibu dan anak sama-sama senang dan betah tinggal dirumah.&lt;br /&gt;Agar rumah kita menjadi sumber ketenangan, maka perlu diupayakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur'an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah, dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·Seisi rumah Bapak, Ibu dan anak harus punya kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·Rumah kita harus menjadi "Rumah Ilmu" Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·Rumah harus menjadi "Rumah pembersih diri" karena tidak ada orang yang paling aman mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebarkan tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain.Oleh karena itu,barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluar banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik. Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya. &lt;br /&gt;(K.H. Abdullah Gymnastiar)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116306005775681795?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116306005775681795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116306005775681795' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306005775681795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116306005775681795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/11/keluarga-kunci-kesuksesan.html' title='Keluarga Kunci Kesuksesan'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116220467872895376</id><published>2006-10-30T16:06:00.000+05:30</published><updated>2006-10-31T17:39:51.623+05:30</updated><title type='text'>Membangun Harga Diri Anak</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/Jredit.0.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/Jredit.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan muka masam, Ibu itu membersihkan mulut anaknya dengan sangat kasar. "Ceuk urang ge entong milu, jadi weh mabok. Era weh ku batur," kata Ibu tersebut dengan ketusnya. Artinya kira-kira, "Kata saya juga jangan ikut, jadi aja mabuk. Kan malu sama orang lain". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tersebut terjadi saat saya naik sebuah angkot. Persis di depan saya ada seorang anak laki-laki yang ditaksir berusia enam tahunan. Mungkin karena tidak tahan ia (maaf) muntah, dan muntahannya itu mengenai baju beberapa penumpang lain. Saya sangat kasihan sekali melihat anak itu, sudah pusing, dijauhi, malu, dimarahi pula. Di tempat lain saat berjalan-jalan di sebuah toko buku, terlihat seorang anak yang sangat aktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengoceh, ia "mengacak-acak" buku yang ada hadapannya. Terlihat ibunya dengan sabar berusaha menghentikan aktivitas anaknya tersebut. "Sayang jangan merusak buku-buku itu nanti orang marah, ya," kata ibu muda itu sambil memegang tangan sang anak. "Eggak mau, Ade pengen buku ini," jawab si anak sambil memegang sebuah buku bergambar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan santun Ibu itu berkata, "Kalau begitu kita ambil tempat bukunya yuk, agar Ade bisa memasukkan bukunya ke keranjang!". "Ade mau," jawab si anak dengan gembira. Ia pun segera mengikuti langkah ibunya mengambil sebuah tas belanja. Kisah di atas memperlihatkan dua sikap berbeda yang diambil orang tua dalam menyikapi prilaku anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap yang diambil ibu pertama benar-benar tidak tepat. Alih-alih mendidik, ia telah menjatuhkan mental dan harga diri anak di depan umum. Bagaimana pun alasannya kita tidak bisa menyalahkan anak yang mabuk di kendaraan karena hal itu ada di luar keinginannya. Sedangkan ibu yang kedua, berhasil mengendalikan "kekesalannya" pada sang anak dengan memberikan bimbingan yang tepat sehingga aspek pembelajaran bisa berjalan lancar. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di balik semua itu, memarahi anak, terlebih lebih menjatuhkan mentalnya, bila berulang kali dilakukan orang tua, secara tidak langsung akan membentuk dan menanamkan mental yang buruk bagi anak. Anak yang dibesarkan dalam cemoohan akan cenderung memaknai dirinya seperti apa yang dikatakan lingkungan kepada dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh bila lingkungan sering mengatakan ia bodoh, maka anak akan mengidentifikasikan dirinya sebagai orang bodoh yang tidak layak menang. Hal ini akhirnya akan mempengaruhi mental dia saat menghadapi kehidupan pada masa yang akan datang. Harapan untuk sukses berasal dari pengalaman yang dipelajari, terutama dari orang tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila orang tua memberi kepercayaan pada anak sehingga memungkinkan anak belajar meningkatkan kemampuan dirinya, setiap inisiatifnya dihargai, dan dia sebagai anak tidak banyak dikecam oleh orang tua dan lingkungan terdekatnya yang berpengaruh, ia akan belajar menemukan harga diri (self-esteem). Kepercayaan orang tua mempengaruhi pertumbuhan mental dan kepribadian anak. Banyak keunggulan-keunggulan intelektual maupun sosial yang sangat dipengaruhi oleh kepercayaan yang diterima anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat kepercayaan orang tua kepadanya, anak memenuhi kebutuhannya yang paling mendasar pada saat ia masih kecil, yakni basic trust (kepercayaan dasar). Kepercayaan dasar yang kuat akan membuat anak merasa aman dan nyaman, sehingga ia berani mencoba, belajar menghargai dirinya, sehingga jika dikelola dengan baik akan membuahkan kekuatan self-reward--keadaan dimana anak tidak perlu mendapat dukungan dari luar sudah menemukan kebahagiaan manakala ia menuai keberhasilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan dasar juga membuat anak merasa dirinya berharga dan merasa terlindungi. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Albert Bandura dalam bukunya Health Psychology Reader (2002), sebagaimana dikutip M. Fauzil Adhim bahwa kompetensi seseorang tidak hanya ditentukan oleh keterampilan yang ia miliki, tapi juga oleh kepercayaan terhadap efikasi diri, yakni harapan atau keyakinan untuk sukses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka benarlah apa yang dikatakan Rasulullah pada seorang ibu yang berusaha merenggut anaknya dari pangkuan beliau, saat bayi itu pipis. "Pakaian yang kotor ini dapat dengan mudah dibersihkan oleh air. Tetapi apakah yang sanggup menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?" &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116220467872895376?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116220467872895376/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116220467872895376' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220467872895376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220467872895376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/10/membangun-harga-diri-anak.html' title='Membangun Harga Diri Anak'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116220456057256865</id><published>2006-10-30T16:05:00.000+05:30</published><updated>2006-10-31T17:41:06.633+05:30</updated><title type='text'>Itsar Dalam Keluarga</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/Jr3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/Jr3.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan merupakan dambaan setiap keluarga. Ia adalah syurga dunia bagi siapa pun yang berhasil mendapatkannya. Karenanya, setiap pasangan suami istri berusaha mendapatkannya dengan berbagai hal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak anggapan, kebahagiaan berumah tangga itu datang dari bertumpuknya harta, tingginya jabatan, dan mewahnya kendaraan. Karena itu, banyak yang merelakan diri berpayah-payah mendapatkan semuanya. Tak hanya suami, tapi juga istri. Mereka berjuang siang malam memimpikan harapannya segera terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan ini kurang tepat. Nilainya hanya setitik kecil di antara besarnya akumulasi kebahagiaan. Buktinya, tak jarang suami istri yang sama-sama berkarier mendapatkan semua itu, rumah tangganya kandas di tengah jalan. Kebahagiaan yang dicari pun hanya menjadi angan-angan yang tak pernah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, jalan mana yang sesungguhnya mampu mendatangkan kebahagiaan dambaan setiap pasangan suami istri? Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita mencerna gambaran Dr Aisyah Abdurrahman tentang kehidupan keluarga Rasulullah SAW: "Rumah beliau indah, meski sangat sederhana. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia lebih mengutamakan hidup dalam rumahnya sebagai orang zuhud. Beliau tidak pernah memaksakan sesuatu apapun terhadap istri-istrinya. Ia selalu isi kehidupan rumah tangganya dengan kehangatan dan kebersamaan yang menyenangkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa lain, Abbas Mahmud Al Aqqad menggambarkan bahwa Rasulullah SAW tidak menjadikan wibawa kenabian sebagai penghalang antara beliau dan para istrinya. Malah, kadang-kadang beliau terlalu bersikap lunak terhadap para istrinya, tegur sapanya manis, dan selalu mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran-gambaran tentang rumah tangga Rasulullah SAW tersebut menjelaskan bahwa keluarga beliau tidak pernah mencari kebahagiaan melalui pintu-pintu duniawi. Mereka mencari kebahagiaan dari pintu-pintu akhlak mulia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, baik Rasulullah SAW maupun istri-istrinya menempatkan akhlak sebagai jalan utama tercapainya kebahagiaan mereka. Tak heran jika kemudian Rasulullah SAW bersabda: Baiti Jannati (Rumahku Syurgaku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW tentu menyadarkan kita, bahwa lewat pintu akhlak-lah kebahagiaan hakiki dalam rumah tangga akan tercapai. Dan salah satu akhlak yang dapat kita tumbuhkan dalam keluarga guna mencapai kebahagiaan adalah Itsar, mendahulukan kepentingan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, seorang suami dapat menunda keinginannya untuk dilayani istrinya, karena sang istri lebih membutuhkan pelayanannya. Ia rela lebih dahulu melayani kepentingan istrinya membantu mengatur urusan-urusan rumah tangga, meskipun dalam keadaan lelah sepulang mencari nafkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun rela berpakaian seadanya, karena ia terlebih dahulu memprioritaskan pakaian istrinya. Ketika berhadapan dengan makanan, ia ingat bahwa istrinya lebih membutuhkan makanan tersebut.&lt;br /&gt;Di saat yang sama, sang istri berpikiran sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memandang bahwa suami merasakan kelelahan yang amat sangat, karenanya ia rela berpayah-payah melayani suami meskipun ia juga merasakan kelelahan luar biasa karena urusan-urusan rumah tangga. Ia tak rela ladang ibadahnya diambil suami, meskipun hanya setitik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ia tidak memperlihatkan kelelahan sedikit pun di hadapan suami. Ia betul-betul ikhlas melayani segala keperluan suami, tanpa keluh kesah. Dr Yusuf Qaradhawi memandang, akhlak seperti ini jauh lebih tinggi derajatnya dibanding rasa cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, dengan itsar seseorang mampu mendahulukan kepentingan siapa pun atas dirinya dalam segala sesuatu yang ia cintai. Ia rela merasakan lapar demi mengenyangkan orang lain, ia rela haus untuk menyegarkan orang lain, dan berjaga demi menidurkan orang lain, ia bersungguh-sungguh untuk mengistirahatkan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu akhlak ini tidak dengan mudah tumbuh dalam keluarga. Ia memerlukan kesadaran, sesungguhnya hubungan kita dengan orang lain, termasuk istri atau suami kita, adalah hubungan ruhiyah yang menempatkan ketakwaan sebagai derajat yang paling tinggi. Bukan hubungan struktural, yang menempatkan derajat-derajat di luar ketakwaan sebagai ukuran. Wallahua'lam&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116220456057256865?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116220456057256865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116220456057256865' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220456057256865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220456057256865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/10/itsar-dalam-keluarga.html' title='Itsar Dalam Keluarga'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116220420352048058</id><published>2006-10-30T15:57:00.000+05:30</published><updated>2006-10-31T18:02:07.016+05:30</updated><title type='text'>Orang Islam Harus Mumpuni</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/DSCN1343.0.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/DSCN1343.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Rohani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Saya tidak mau keluarga saya mendapatkan rezeki haram dari saya. Sekecil apapun, rezeki tersebut harus jelas kehalalannya.'' Gedung Bank Indonesia (BI) Jakarta di bulan Ramadhan. Tiap pagi, dari pukul 07.00 hingga 08.30, di suatu ruang, sekelompok pegawai BI khusyuk dan semangat bertadarus Alquran. Uniknya, yang memimpin adalah seorang pejabat BI. Dialah Siti Chalimah Fadjrijah SE Akt MM, direktur Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan. ''Saya sudah enam tahun mengadakan acara tadarusan di kantor,'' ungkap Siti Fadjrijah kepada Republika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan kerjanya, perempuan yang akrab disapa Bu Fadjri itu memang dikenal sebagai salah seorang yang aktif di bidang keislaman. Ia giat mengadakan dan mendorong kegiatan pengajian, baik tadarus Alquran, pengkajian Alquran, maupun diskusi keislaman. Setiap ada kesempatan, ia selalu memanfaatkannya untuk mengajar ngaji dan dakwah. ''Saya selalu berusaha mengamalkan hadis Nabi yang mengatakan, 'Sampaikanlah apa yang engkau ketahui, walaupun satu ayat','' kata lulusan Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Jurusan Manajemen Internasional, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulusan Sekolah Staf dan Pimpinan Bank Indonesia (SESPIBI) Angkatan XVIII (1993) itu juga sering berceramah kepada anak buahnya. ''Niatkan kerja itu sebagai ibadah, supaya kalaupun tidak dapat dunianya (jabatan dan sebagainya-red), tetap dapat akhiratnya,'' demikian nasihatnya. Dia menambahkan, kalau pangkat tidak naik-naik, tidak usah sakit hati. ''Saya yakin, kalau kita dekat dengan Allah, semua akan lancar. Semua bisa tercapai. Hal itu sudah saya sudah buktikan,'' kata perempuan yang mengawali karirnya di Bank Indonesia sebagai Staf di Bagian Pemeriksaa Bank-UPPB (1979).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, kalau seorang hamba dekat dengan Allah dan berusaha maksimal, tidak perlu neko-neko, hidupnya dijamin. ''Karena itu, kalau bekerja, bacalah basmallah, niatkan ibadah, Allah pasti membalas. Pimpinan kita akan dibisiki oleh Tuhan agar mengangkat posisi atau derajat kita,'' tegas perempuan yang penampilan sehari-harinya tak pernah lepas jilbab itu. Dia yakin, rezeki itu Allah yang atur. ''Biar jungkir balik, kalau memang bukan rezeki kita, tidak akan pernah sampai kepada kita. Karena itu, untuk apa jungkir balik? Apalagi rezeki itu tidak dibawa mati. Hadits Nabi mengatakan, hanya tiga hal yang dibawa mati, yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu mendoakan orangtuanya,'' urainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman hidup Siti Fadjrijah membuktikan, dia sering naik pangkat tanpa diduganya. Tiap kali naik pangkat, ia selalu mengevaluasi diri. ''Saya sedang diuji dengan jabatan, apakah saya makin takut dan tunduk kepada Allah, atau tidak? Waktu saya masih jadi staf biasa, saya selalu rutin shalat Tahajud. Apakah setelah naik jabatan, masih tetap rutin shalat Tahajud?'' tutur wanita yang gemar melahap buku-buku keislaman sejak masih remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pertama kali akan bekerja di Bank Indonesia, Siti Fadjrijah terlebih dahulu bertanya kepada beberapa orang, terutama ulama. Ada seorang kiai yang berkata padanya, ''Boleh saja bekerja di BI, tapi jangan mencuri waktu.'' Pesan kiai itu selalu diingat betul oleh Siti Fadjrijah. ''Kita digaji untuk bekerja delapan jam sehari. Kalau jumlahnya kurang dari itu, berarti rezeki kita ada yang tidak halal,'' kata anggota Dewan Pengurus Nasional-Ikatan Akuntansi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Siti Fadjrijah sangat hati-hati betul menyangkut soal kerja dan rezeki. ''Saya tidak mau keluarga saya mendapatkan rezeki haram dari saya. Rezeki tersebut harus jelas kehalalannya.'' Perempuan kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 2 September 1951 itu juga giat mengadakan pengajian di lingkungan tempat tinggalnya. Di Kompleks Perumahan Bank Indonesia Cipinang, Jakarta Timur, Siti Fadjrijah mengajar membaca Alquran tiap hari Sabtu. ''Pesertanya, ibu-ibu penghuni kompleks. Mereka sangat beragam, dari yang sama sekali tidak mengenal huruf Alquran sampai yang sudah mulai kenal huruf namun belum lancar membaca Alquran,'' ujar perempuan yang aktif mengikuti berbagai kursus dan seminar perbankan, baik di dalam maupun luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang juga aktif di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) itu, ke mana pun pergi, selalu membawa Alquran. Dia biasa membaca Alquran sebelum dan setelah shalat Shubuh. Rata-rata dia mampu mengkhatamkan Alquran dua sampai tiga bulan sekali. Namun, di bulan Ramadhan atau saat umrah Ramadhan, dia bisa khatam berkali-kali. ''Wirid saya adalah Alquran. Sejak kecil, saya sudah terbiasa membaca Alquran. Ketenangan yang kita rasakan kalau kita membaca Alquran itu luar biasa,'' kata perempuan pernah mengikuti job training di berbagai bank sentral dan bank syariah di sejumlah negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, Alquran itu luar biasa. Semua yang ada di dunia, ada di Alquran. Ilmu yang tidak akan habis sampai hari kiamat. ''Bacaan yang paling saya senangi adalah Alquran,'' tuturnya. Siti Fadjriah tak hanya menoleh ke luar. Ia pun selalu memperhatikan keadaan di dalam rumah tangganya, khususnya anak-anaknya. ''Saya mengajarkan anak membaca Alquran sampai mereka bisa, baru kemudian saya memanggil guru mengaji. Hanya dua hal yang selalu saya ingatkan kepada anak-anak saya, yakni belajar, shalat, dan mengaji,'' kata ibu tiga anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siti Fadjrijah juga selalu berusaha menjaga shalat sunnat Dhuha. ''Saya berangkat dari rumah sudah dalam keadaan berwudhu. Sampai di kantor langsung shalat Dhuha. Baru kemudian bekerja,'' ungkap perempuan yang sudah menunaikan ibadah haji 10 tahun lalu. Bila melihat latar belakang keluarganya, tak heran kalau Siti Fadjrijah sangat religius. Dia berasal dari keluarga santri. Ibu, ayah, dan kakeknya adalah guru mengaji. Bahkan kakeknya punya pesantren di Temanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sekolah negeri hanya di SD dan Perguruan Tinggi. Sedangkan pendidikan menengah dilalui di SMP dan SMA Islam. Ia belajar mengaji kepada orang tuanya. ''Saya salut kepada orang tua saya. Ayah bilang, 'Kalau mau jadi orang Islam harus mumpuni'. Karena itu, Beliau membekali anak-anaknya dengan pendidikan agama dan umum,'' tambahnya. Ayahnya juga sering berkata, ''Saya tidak bisa meninggalkan buat kamu harta, tapi ilmu.'' Pesan inilah yang sering dikenang Siti Fadjrijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berada di rumah, Siti Fajriah betul-betul menjadi seorang ibu. ''Kalau saya di rumah, orang tidak akan menyangka saya pejabat. Saya ikut belanja ke pasar. Saya pun membersihkan kamar mandi. Saya tidak merasa jabatan itu jadi beban. Jabatan itu di kantor, di rumah saya adalah ibu rumah tangga."Dia menambahkan, ''Saya merasa salut sekali kepada Siti Khadijah (istri Rasulullah, {red}). Beliau seorang wanita yang kaya raya, seorang bos, namun begitu menikah dengan Muhammad, dia sangat berbakti.'' Ia pun kerap berdoa, ''Ya Allah, berikanlah saya sedikit saja nikmat seperti Khadijah dan Muhammad. Totalitas dan keikhlasan.'' &lt;br /&gt;(Siti Chalimah Fadjrijah SE Akt MM)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116220420352048058?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116220420352048058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116220420352048058' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220420352048058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220420352048058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/10/orang-islam-harus-mumpuni.html' title='Orang Islam Harus Mumpuni'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116220398937853042</id><published>2006-10-30T15:55:00.000+05:30</published><updated>2006-10-31T17:42:20.610+05:30</updated><title type='text'>Nak, Kembalilah ke Rumah</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/Jr1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/Jr1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Muliakanlah anak-anakmu dan perindahkanlah akhlak mereka" (Al-Hadis) Anugerah yang terindah bagi orang tua adalah hadirnya seorang anak dalam kehidupannya. Anak merupakan permata, penyejuk hati, dan penerus generasi yang tak ternilai. Kehadirannya dalam keluarga membawa banyak keberkahan, karunia, dan rezeki kebahagiaan melalui celoteh, gelak tawa, tangisan dan riuh rendahnya suara teriakan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keindahan itu, orang tua banyak memberikan perhatian lebih dalam kehidupan anak. Bukan saja dalam hal keseharian tapi segi-segi pilihan hidup bagi sang anak. Dan alasan yang sering muncul dari apa yang telah diberikan dan dikorbankan itu adalah karena mereka menaruhkan tumpuan harapan kepada sang anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga orang tua bersedia memberikan segalanya, walau ditempuh dengan susah payah. Namun, mengapa ketika beranjak usianya, anak justru lebih menyenangi lingkungan di luar rumah dan lebih nyaman dengan pergaulannya? Sementara dengan perkembangan zaman seperti ini, banyak hal yang akan cepat mempengaruhi kondisi pribadinya. Kehadiran zona-zona bermain yang begitu banyak, mal dan plaza, ancaman napza, tontonan teater dan cafe dan lain sebagainya yang begitu melalaikan sekaligus mengkhawatirkan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Haruskah waktu belianya dilalui dengan begitu saja? Sedangkan mesjid dan rumah sebagai tempat yang mulia, jarang menjadi tempat singgahnya. Patut kita renungkan dan lihat lebih jeli. Bukankah rumah merupakan tempat yang layak untuk mereka kembali dan menuai banyak hal bagi kehidupannya? Mungkin rumah tempat mereka bernaung saat ini tidak begitu menjanjikan kesenangan yang mereka idamkan. Sedangkan nalurinya sebagai manusia, mereka mencari kenyamanan sesuai usia dan perkembangan dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal ini akan mengarahkan mereka untuk mencari, sekalipun kenyaman itu berada jauh dari lingkungannya. Namun seharusnya, tempat yang nyaman bagi anak-anak kita adalah rumah, tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan karena di dalamnya ada orangtua dan tempat mereka mendapatkan salah satu jalan rezekinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah, tempat menimba ilmu bagi anak &lt;br /&gt;Tampaknya fungsi rumah sebagai tempat menimba ilmu bagi anak kurang kita perhatikan. Anak-anak yang belum begitu kaya dengan pemaknaan terhadap ragam peristiwa, masih mengikuti alur naluriahnya yang suka dengan dunia bermain. Ini harus diimbangi dengan peran orang tua sebagai teman dan guru bagi anak-anaknya. Tempat mereka mendapatkan pengetahuan dan cara menghadapi kehidupan dan solusi permasalahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah, tempat perbaikan akhlaq &lt;br /&gt;Memuliakan anak-anak bukan berarti memanjakan, tetapi berupaya memberikannya persediaan pendidikan yang baik, memperindah pekertinya, dan meneguhkan agamanya. Anak-anak harus dapat menemukan latihan dan pendidikan di dalam rumah, bagaimana mereka dapat bertingkah laku, memuliakan orang tua dan mempertajam keimanannya. Kelak, hal inilah yang menjadi dasar dan bekal mereka dalam menyikapi kebersamaan dengan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah, media mengembangkan ekspresi &lt;br /&gt;Di dalam rumahlah seharusnya anak-anak mendapatkan semangat dan gairah untuk mengembangkan benih potensi. Tempat ia dapat mengetahui kemampuan dan mendapatkan bimbingan, ke arah mana semua itu ditujukan. Kebebasan seperti apa yang ia dapat peroleh dengan tetap memperhatikan norma-norma yang berlaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang selalu merindukan. &lt;br /&gt;Kita harus menyadari bahwa anak-anak adalah titipan Allah yang harus kita jaga jiwa dan raganya. Kita harus berupaya semaksimal mungkin menjadikan momen tertentu menjadi sebuah waktu yang tepat untuk menjalin kebersamaan. Anak pun perlu sapaan-sapaan manis yang membuat mereka rindu akan kehadiran dan suasana keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, maka muliakanlah mereka dengan terus mendidiknya penuh semangat dengan pencerahan ilmu dan akhlak serta mendampingi perkembangan kehidupannya. Anak-anak yang memiliki ketangguhan luar biasa dan memiliki kemampuan besar, salah satu sebabnya adalah mereka telah mendapatkan bekal yang cukup dari rumah mereka. Karena itu, ajaklah anak-anak kita kembali ke rumah, tempat mereka memperoleh banyak kebaikan sebagai bekal yang bermanfaat pula bagi lingkungannya. Wallahu a'lam. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116220398937853042?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116220398937853042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116220398937853042' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220398937853042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220398937853042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/10/nak-kembalilah-ke-rumah.html' title='Nak, Kembalilah ke Rumah'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116220383823689011</id><published>2006-10-30T15:52:00.000+05:30</published><updated>2006-10-31T17:43:30.326+05:30</updated><title type='text'>Amanat Itu Telah Diambil</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/240.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/240.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan, ada sebuah keluarga yang hidup pada zaman Rasulullah di Madinah, Abu Thalhah dan istrinya Rumaisah yang telah dikaruniai seorang putra. Saat itu, kondisi keuangan keluarga memprihatinkan dan memaksa Abu Thalhah keluar Madinah untuk berniaga. Hatinya sungguh berat meninggalkan istri dan anaknya yang sedang terbaring sakit. Namun pada akhirnya, hatinya pasrah menyerahkan segala urusan pada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perniagaan Abu Thalhah berhasil luar biasa. Dia pun tidak tahan untuk kembali pada keluarganya membagi kegembiraan. Sementara itu, istrinya di rumah kebingungan memikirkan cara untuk menyampaikan kabar pada suaminya tentang anaknya yang meninggal dunia. Rumaisah tidak ingin merusak kegembiraaan suaminya dan dia pun tahu betul bagaimana kondisi suaminya jika diberi kabar menyedihkan secara mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepulangan Abu Thalhah disambut gembira oleh istrinya seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Saat Abu Thalhah menanyakan perihal anaknya, istrinya menjawab bahwa anak mereka sekarang dalam keadaan tenang dan lebih baik daripada sebelumnya. Abu Thalhah pun tenang dan tidak menyangka hal yang tidak-tidak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, Rumaisah bercerita pada Abu Thalhah tentang tetangganya yang merasa ketakutan dan gelisah karena amanat yang dititipkan padanya telah diambil si empunya. Abu Thalhah langsung menanggapi: "Wah, itu tidak baik. Mereka tidak boleh berbuat demikian!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban itu, Rumaisah merasa mendapat jalan untuk menyampaikan berita duka pada suaminya. "Demikian juga dengan anakmu, suamiku. Titipan amanat itu telah diambil Allah." Dengan ketegaran dan ketabahannya, akhirnya Rumaisah berhasil memberitahu kabar duka tersebut pada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tersebut bisa kita jadikan keteladanan dalam hidup sehari-hari. Ketabahan, kesabaran, ketegaran, dan kepandaian Rumaisah bisa menjadi inspirasi bagi para istri dalam menjalankan kehidupan rumah tangga. Rumaisah menganggap kematian anaknya sebagai ketaatan dan tunduk kepada iradat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, bukan saja kematian yang harus kita hadapi dengan tabah, tegar, sabar, dan pandai. Tapi, ujian apapun bisa disikapi dengan sama. Bukan hanya kesusahan yang termasuk ujian, tapi kesenangan pun merupakan ujian yang harus kita terima dengan kehati-hatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak adalah karunia Allah sekaligus amanat yang dipikulkan pada kita sebagai orang tua. Kehadiran anak di tengah-tengah keluarga harus disyukuri dengan cara membentuk sikap Islami sesuai akhlak terpuji yang dicontohkan Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak menganggap bahwa orang tua adalah pemimpin bagi mereka. Ayah sebagai pemimpin umum mempunyai tugas dan tanggung jwab penuh terhadap kelangsungan keluarganya. Ayah betanggung jawab atas urusan-urusan ekstern rumah tangga. Sedangkan ibu mempunyai tugas bagian intern keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemimpin yang shalih mempunyai sikap utama yaitu adanya kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan apa yang dikerjakan. Rasulullah adalah contoh nyata yang bisa kita ikuti keteladanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah tidak memerintahkan kebaikan kecuali dialah yang melaksanakannya pertama kali. Dia tidak melarang dari sesuatu keburukan kecuali dialah orang pertama kali yang meninggalkannya. Dia berhasil mengalahkan, tetapi tidak sombong dan tidak membuat kecemasan. Dia menepati janji dan memenuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Rasulullah sebagai pemimpin dunia patut ditiru oleh para orang tua dalam memimpin keluarga. Mengingat anak adalah amanat yang Allah titipkan pada kita dalam keadaan fitrah, maka idealnya saat Allah meminta kembali miliknya, anak ada dalam kondisi baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perbandingan, seorang teman menitipkan buku kepada kita dalam keadaan bersih tanpa tulisan apapun. Saat dia datang dan meminta kembali bukunya, dia akan menghujani kita dengan pertanyaan seputar buku yang kita jaga. Jika buku tersebut dijaga dengan baik, otomatis ucapan terima kasih akan keluar dari mulutnya. Walaupun kita sempat menuliskan beberapa tulisan atau gambar dalam bukunya, jika itu akan membuat mata kita sejuk, niscaya dia tidak akan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebaliknya, jika buku tersebut dikembalikan dalam kondisi lusuh, sobek di sana-sini, dan sudah tidak karuan lagi penampilannya, maka pasti dia akan marah besar. Dan kita dianggap sebagai orang yang tidak mampu menjaga amanat, padahal kita sudah menyanggupi sebelumnya untuk menjaga dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan anak yang diamanatkan Allah kepada kita. Maka, kita harus siap jika suatu saat nanti Allah mengambil kembali titipan amanat itu. Kita berharap, titipan amanat itu ada dalam keadaan baik saat diambil oleh-Nya. Sehingga pertanggungjawaban kita di hadapan-Nya pun kelak akan lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116220383823689011?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116220383823689011/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116220383823689011' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220383823689011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220383823689011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/10/amanat-itu-telah-diambil.html' title='Amanat Itu Telah Diambil'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116220361275091371</id><published>2006-10-30T15:48:00.000+05:30</published><updated>2006-10-31T17:58:57.506+05:30</updated><title type='text'>Memberi, Bukan Menerima</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/DSCN1190.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/DSCN1190.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kita harus mulai mengubah paradigma berpikir, bahwa kemuliaan sejati bukan berasal dari apa yang orang lain berikan kepada kita, tapi dari apa yang bisa kita berikan kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika sepasang suami istri yang baru dikarunia seorang anak terlibat percakapan. Sang istri berkata, "Abi, alhamdulillah ya Allah mengabulkan doa kita. Sekarang kita sudah punya rumah sendiri, padahal sebelumnya Ummi sempat bertanya-tanya bisa nggak ya kita punya rumah?". "Ya, kita harus bersyukur. Hidup kita selalu dimudahkan Allah," ujar sang suami mengamini. Kemudian ia melanjutkan, "Tapi ingat bahwa rumah ini bukan milik kita, juga bukan milik anak kita. Semua ini hanyalah titipan Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, saya ngerti. Tapi apa maksud Abi bahwa rumah ini bukan milik anak kita? Bukankah nanti akan diwariskan pada anak-anak kita?" tanya istri tersebut. Suami itu menjawab, "Abi sangat tidak setuju bila kamu berpikiran seperti itu. Abi ingin rumah ini nanti dimiliki oleh mereka yang membutuhkan, anak-anak yatim atau orang yang tidak punya lainnya". Dengan terkejut si istri menyela, "Lho, kok bisa begitu. Bagaimana dengan anak-anak kita?".&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Begini Ummi, kita harus menanamkan sikap mandiri dan mau berbagi kepada anak kita. Kalau dari sekarang kita sudah memanjakannya atau menjanjikan bahwa kalau sudah dewasa ia tak perlu susah-susah bikin rumah karena akan dapat "warisan", maka ia tidak akan mau bekerja keras apalagi berbagi. Kita harus menanamkan kepada dia bahwa rumah ini adalah milik umat, dia tidak berhak memilikinya. Karena itu, dia harus kaya, harus mampu membangun rumah sendiri, syukur-syukur mampu membangunkan rumah bagi orang lain. Sekali-kali jangan kita tanamkan kebiasaan meminta, tapi tanamkanlah kebiasaan memberi," ungkap si Abi dengan bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu pelajaran penting dari kisah di atas, kita -- terutama yang telah berkeluarga -- harus mulai mengubah paradigma berpikir, bahwa kemuliaan yang sejati bukan berasal dari apa yang orang lain berikan kepada kita, tapi dari apa yang bisa kita berikan kepada orang lain. Paradigma berpikir seperti ini harus mulai kita tanamkan, baik dalam diri sendiri, pasangan hidup, maupun anak-anak. Ya, memberi -- apalagi bila dilandasi keikhlasan -- adalah perilaku yang teramat mulia. Bahkan, Rasulullah SAW memberi julukan "khairunnaas; manusia terbaik" kepada orang yang selalu memberi dan tak pernah menjadi beban bagi orang lain. Beliau bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi dari paradigma ini adalah "sebelum kita dapat memberi, kita harus memiliki sesuatu untuk diberikan, dan untuk dapat memiliki sesuatu itu, kita harus mengusahakannya". Jadi ada rangkaian turunan dari paradigma memberi ini. Kita sulit untuk bersedekah (uang) bila kita tidak memiliki uang untuk disedekahkan. Untuk mendapatkan uang kita harus mengusahakannya. Kita pun sulit membagikan ilmu kepada banyak orang, bila kita tidak memiliki ilmu tersebut. Ilmu itu sendiri akan kita dapatkan bila kita mau berikhtiar mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, saat kita menginginkan anak-anak kita menjadi manusia terbaik, yang lebih suka memberi daripada menerima, maka kita (orang tua) harus mengisi jiwanya dengan benih-benih kebaikan. Diharapkan benih-benih tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang buahnya bisa dinikmati banyak orang. Ketika orang tua menginginkan anaknya mampu beramal dengan ilmunya, maka orang tua harus menanamkan cinta ilmu kepadanya. Ketika orang tua menginginkan mereka menjadi seorang dermawan, maka bentuklah mereka sebagai seorang yang "pandai" mencari uang dan tidak pelit. Ketika orang tua menginginkan mereka menjadi penyebar kebaikan, maka isilah jiwanya dengan akhlak mulia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, semua ini tidak akan pernah mengena sebelum orang tua mengisi jiwanya terlebih dulu dengan nilai-nilai tersebut. Dengan kata lain harus ada teladan, baik dalam pola pikir maupun dalam tindakan. Teladan ini teramat penting dalam keluarga, karena orang tua adalah model pertama dan utama bagi anak. Ketika Albert Schweitzer ditanya tentang bagaimana mengembangkan anak, dia menjawab: "Ada tiga prinsip. Pertama teladan. Kedua teladan. Dan ketiga teladan". &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116220361275091371?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116220361275091371/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116220361275091371' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220361275091371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220361275091371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/10/memberi-bukan-menerima.html' title='Memberi, Bukan Menerima'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34787567.post-116220352010093101</id><published>2006-10-30T15:47:00.000+05:30</published><updated>2006-10-31T17:59:46.696+05:30</updated><title type='text'>Materi Pendidikan Anak</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/1600/Singapore%20126.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/390/3858/400/Singapore%20126.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanyakan pada anak-anak tentang cita-cita mereka di masa depan! Kemungkinan jawaban mereka beragam, ingin jadi dokter, insinyur, arsitek, pilot, pembalap, atau profesi lain yang akrab dengan kehidupan mereka. Namun beberapa saat kemudian mereka berubah pikiran, ingin menjadi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah anak-anak. Dengan bebasnya mereka menyampaikan keinginannya tanpa takut untuk didebat orang lain. Tanpa ragu dengan sesekali diselingi gelak tawa lepas, mereka menjelaskan dokter itu siapa dan bagaimana dia bekerja sesuai dengan pemahaman mereka yang sederhana.&lt;br /&gt;Pemahaman mereka tentang sesuatu diperoleh dari orang-orang di sekitarnya atau dari televisi yang saat ini telah menjadi sahabat dekat. Jika tidak bermain di rumah, mereka lebih suka menghabiskan waktu di depan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang tua merasa tenang jika anaknya berada di rumah dan tidak melakukan sesuatu yang membahayakan. Tapi sebagian orang tua yang lainnya merasa khawatir karena anak-anaknya selalu sibuk dengan tontonannya tanpa memedulikan hal lain.&lt;br /&gt;Lalu para orang tua memikirkan berbagai cara agar anak-anaknya dapat berkembang dengan normal dan dapat mengembangkan bakatnya dengan baik. Apapun akan mereka tempuh agar anak-anaknya mendapat pendidikan yang maksimal.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Para orang tua merasa kurang cukup jika anaknya hanya bersekolah formal saja. Mereka memilih beberapa sekolah tambahan untuk mengembangkan kemampuan atau menambah jam belajarnya. Bahkan tidak sedikit orang tua yang menyekolahkan anaknya dari usia 6 bulan.&lt;br /&gt;Usaha mereka untuk mengenalkan anak-anak pada dunia pendidikan perlu diacungi jempol. Bukan saja tenaga, mereka pun tidak peduli kalau harus mengeluarkan biaya banyak untuk pendidikan anak-anaknya.&lt;br /&gt;Tapi sebetulnya, apakah materi pendidikan anak itu hanya bisa diperoleh di luar rumah? Apakah materi pendidikan dari orang tua tidak dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan cita-cita anaknya?&lt;br /&gt;Ada sebuah ungkapan bahwa seorang ibu itu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Seorang ibu harus mulai mendidik dan mengajarkan sesuatu pada anak-anaknya saat mereka masih dalam kandungan, dan tentunya hal itu dilakukan juga oleh suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun cita-cita mereka nanti, seorang ibu harus membekalinya dengan materi pendidikan yang sungguh mulia sebagai fondasi kuat yang mampu menopang mereka di masa depan. Karena pada dasarnya, para orang tua bercita-cita agar anak-anak mereka menjadi anak shalih dan shalihah. Walaupun di masa depan nanti anak-anak itu menjadi seorang dokter, maka dokternya adalah dokter yang shalih dan shalihah.&lt;br /&gt;Jadi, orang tua tidak perlu bingung akan materi pendidikan Islami yang bisa mereka terapkan sejak dini pada anak-anak. Kita bisa mengutip materi pendidikan yang diberikan Luqman pada putranya setelah Luqman dianugerahi hikmah oleh Allah SWT. Semuanya tertuang dalam Alquran surat Luqman [31] ayat 12-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah yang bisa kita ajarkan pada anak-anak adalah untuk tidak menyekutukan Allah SWT. Orang tua memperkenalkan anak kepada Allah SWT melalui kekuasaan dan keagungan-Nya dalam menciptakan alam semesta dan seluruh isinya.&lt;br /&gt;Cara itu dilakukan agar anak terbiasa untuk mensyukuri segala nikmat yang mereka terima melalui orang tuanya. Dan untuk itu, mereka juga diajari untuk selalu berterima kasih kepada orang tua, mematuhi mereka jika mengajak kepada kebaikan, dan tidak mengikutinya jika mengajak kepada perbuatan dosa, tetapi tetap bergaul dan berkomunikasi secara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menganjurkan anak untuk selalu berbuat baik dan menanamkan akhlak mulia adalah materi wajib yang harus diajarkan orang tua kepada anak-anaknya. Hal itu harus ditunjang sepenuhnya oleh orang tua sebagai teladan bagi anak-anaknya. Perhatian mereka pun harus penuh dalam memberikan pendidikan ruhani, jasmani, dan kognisi, agar perkembangan anak menjadi lebih baik dan seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan kita di masa depan adalah munculnya generasi muda yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, berbakti kepada orang tua, dan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Itulah pekerjaan rumah yang membutuhkan proses panjang bagi para orang tua agar cita-cita mereka dan anak-anak tercapai.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34787567-116220352010093101?l=jonirahalsyahputra.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/feeds/116220352010093101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=34787567&amp;postID=116220352010093101' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220352010093101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34787567/posts/default/116220352010093101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jonirahalsyahputra.blogspot.com/2006/10/materi-pendidikan-anak.html' title='Materi Pendidikan Anak'/><author><name>Atthallah Putra Ramadhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04665110998502052119</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04801184114431173964'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>